Tuesday, May 22, 2018

TENTANG SEPATU


Sepatu ini usianya belum setahun, tapi sudah menemani langkahku ke beberapa kota di Indonesia. Medan, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Palembang, Surabaya, Mojokerto. Wah, ternyata sudah banyak kota yang disambanginya. Tak pernah bosan dipijak oleh kakiku dan sesekali kaki orang lain, terutama saat kejepit di kereta. Hahaha. Sepatu ini menjadi saksi sejarah bagaimana aku tergopoh-gopoh mengejar kereta. Tak terhitung sudah berapa stasiun yang dimampiri sepatu biru ini.

Sepatu bertali hijau ini setia menemaniku dari sesi coaching pertama hingga sesi coaching empat puluh dua. Sepatu ini juga yang menjadi partnerku mengikuti kelas NLP Essentials dan NLP Coach. Sepatu ini yang menjadi saksi kelulusan ujian coaching di Dunkin Donut Gramedia Matraman. Dengan sepatu ini juga aku menerima sertifikat kelulusan NLP Coach di D Hotel.

Sepatu ini menemani gerak dan langkahku saat bertemu dengan tokoh yang tadinya hanya bisa kulihat melalui televisi. Sepatu ini tak pernah mengeluh saat diajak nongkrong bareng teman dan kenalan baru. Tak pernah protes saat kehujanan, becek-becekan atau terpanggang kepanasan. Ah, Sepatu yang saat mengingat ceritanya menimbulkan perasaan haru.

Sepertinya sepatu ini yang paling jauh perjalanannya dari sekian sepatu yang aku punya. Sepatu yang paling sering dipakai, hampir setiap hari. From weekdays to weekend. Hahaha. Iya, karena sepanjang perjalanan beberapa bulan di ibukota dan sekitarnya, hanya sepatu ini yang aku bawa. Dan kemudian ada chemistry yang terjalin diantara kami. Hampir setiap memakai sepatu ini aku merasa kakiku lebih kokoh untuk berjalan, seberat apapun rintangan menghadang. Setiap memakai sepatu ini aku tahu kalau langkahku akan baik-baik saja. Setiap memakai sepatu ini, aku tahu Allah akan memudahkan perjalananku.

Terima kasih ya sepatu kesayangan..
Kalau kamu sudah lelah dan ingin beristirahat, jangan pernah sungkan untuk bilang.
Mungkin ini saatnya aku mencari sepatu baru untuk menemani perjalanan baru.

Bandara Kualanamu

Burung besi itu akhirnya mendarat juga. Setelah berjoget-joget di udara. Sesaat sebelum landing tadi rasanya seperti naik jet coaster. Cuaca tidak bersahabat. Hujan membasahi tanah kelahiranku, kota Medan tercinta.
Tulisan Bandara Kualanamu sudah terlihat, namun aku masih enggan berdiri. Buat apa terburu-buru kalau pintu pesawat saja belum dibuka.

Ingatanku terbang melintasi puluhan purnama yang telah berlalu. Dulu, setiap kali landing di Bandara Kualanamu, ada perasaan yang menyeruak di dada. Bukan perasaan bahagia. Apa ya namanya, aku kesulitan mendefinisikannya. Tapi rasa itu tidak nyaman. Seperti resah dan gelisah. "Ah, sudah sampai di Medan lagi". Dan sinar mataku mulai redup. Hahaha

Itu semua cerita tentang masa lalu. Kini saat melihat kota kelahiranku, justru energi positif yang terpancar. Aku bahagia dan ingin segera meluapkan kerinduan. Ya, rasa rindu pada keluarga dan sahabat. Pada kamu yang selalu mendukungku untuk mewujudkan mimpi. Padamu yang selalu menguatkan di saat aku berada di titik terbawah.

Perjalanan panjang kali ini mengajarkan banyak hal padaku. Tentang apa yang sebenarnya aku cari dan ternyata tidak aku temukan di ibukota. Tentang pencarian makna hidup. Tentang peran dan ujian yang sudah Allah tetapkan. Tentang bersyukur. Perjalanan ini membuatku belajar bahwa hidupku bukan hanya tentang diriku sendiri. Alhamdulillah. Terima kasih atas kesempatan ini ya Allah..


Thursday, May 17, 2018

PULANG

Ada berbagai rasa yang bercampur aduk di dada saat menyebutkan kata ini. Pulang.
Bahagia, akhirnya bisa bertemu lagi dengan keluarga. Bisa meluapkan rindu yang selama ini tertahan. Tetapi juga ada rasa sedih saat meninggalkan ibukota. Iya, kota yang dulu mati-matian aku benci, ternyata lambat laun hatiku berlabuh di pinggirannya.

Meninggalkan begitu banyak sahabat yang kebaikannya tak terlukis dengan kata-kata. Membayangkan kapan bisa dipertemukan lagi dengan mereka, bendungan di mataku jebol. Bagaimana tidak, belum lagi damri yang kutumpangi meninggalkan terminal Pasar Minggu, sapaan hangat bergantian masuk di WA. Dengan bahasa berbeda, namun maksud yang sama. "Yakin mau meninggalkan Jakarta?". Ah, kaliaaan.. Mengapa begitu mengerti perasaanku.

Kututup gawai agar tak terlalu terbawa perasaan. Kubuka gorden yang menutupi jendela angkutan bandara. Meski sinar matahari menyilaukan, aku pandangi kemacetan jalanan yang mungkin suatu hari nanti akan dirindukan. Ah, mengapa jadi melankolis begini.

Menarik dan menghembuskan nafas bergantain. Istighfar. Meluruskan niat.
Insya Allah akan ada waktunya kembali kakikku menginjakkan kaki di ibukota.
Dengan keadaan dan kondisi yang lebih baik.
Hati yang lebih baik, yang mampu mengelola dan menata rasa. Tsaaaah.

Bismillah..


Friday, May 11, 2018

Harapan

Apa yang salah dengan harapan?
Tak ada, kecuali kamu meletakkannya ketinggian
Saat segala sesuatu dalam ketidakpastian
Mau kemana langkahmu berjalan

Sudah dengar sabda
Berhenti berharap pada manusia
Atau kau akan kecewa
Kemudian menoreh luka

Hargai saja segala kebaikan
Dan ilmu yang telah diajarkan
Lupakan semua kesalahan

Bersandarlah hanya pada Dia Sang Maha Kokoh
Berharap hanya pada Sang Maha Pemberi Harapan

Semoga perjalanan ini mengokohkan pundakmu
Memantapkan langkahmu
Untuk terus berjalan tanpa penyesalan
Jangan pernah berhenti sampai semua selesai dan menjadi cerita bahagia

Selamat melanjutkan perjalanan, kawan

Rindu

Andai rindu bisa ditukar ke money changer
Mungkin aku sudah jadi milyuner
Tak perlu pusing mikir tiket helikopter
Menuju duniamu yang tak berhenti berputar

Andai rindu bisa diganti dengan pengetahuan
Mungkin aku sudah menjadi wikipedia berjalan
Tak perlu memasuki perpustakaan
Untuk mengusir sebuah bayangan

Andai rindu bisa ditukar kuota
Mungkin aku tak lagi membutuhkan paket data
Sampai akhir dunia
Tak berhenti berselancar di dunia maya

Tapi rindu hanya sekadar rindu
Yang tak bisa ditukar sesuatu
Sampai waktu menunggu
Kita bertemu

Apresiasi

Terkadang hanya dengan satu kalimat sederhana,
Kita menjadi merasa sangat berharga.
Sampai tak sadar air menetes dari sudut kelopak mata.
Lantas mengapa tak kita biasakan memberikan apresiasi?
Bukankah apapun yang berasal dari hati,
pasti akan kembali ke hati?


Mungkin awalnya akan terasa aneh.
Tapi itu akan melunturkan pongah.
Ayo terus dilatih.
Karena akan mengikis resah.
Bukan, ini bukan gombal receh.

Rasa yang menyeruak di dada,
Bukan hanya gembira dan bahagia.
Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Iya, aku kesulitan memberi nama.
Tapi aku bisa merasakannya.
Hangat di dada,
Kemudian menjalar ke mata.
Ah, cinta..

Catatan Pembelajaran bersama Indonesia NLP Society
NLP Coach Certification
Day 2
5 Mei 2018

Terima kasih para guru dan pembelajar dari 6 kota.
Energi yang dialirkan membuatku tersadar
Bahwa benar tak ada rintangan jika kita terus berjalan
Tak ada lelah, kecuali lillah

Wednesday, May 9, 2018

Zona Nyaman

Terkadang kita butuh melakukan hal baru, melepaskan sejenak dari rutinitas. Bosan, itu mungkin yang kau rasakan. Sesekali keluar dari zona nyaman dan challenge diri melatih ketrampilan baru. Bertemu dengan orang baru. Dengan begitu kita tahu bahwa dunia tak selebar komunitas yang kita agung-agungkan.

Keluarlah sejenak dan pandang dunia baru. Ada banyak hal seru. Ayunkan langkahmu untuk memasuki dunia baru. Rindu, mungkin sesekali mengganggu. Tapi dari situ kau tahu kalau hatimu tak membatu.


Teman

Punya banyak teman itu menyenangkan. Ada yang suka mengingatkan, ada yang suka mendengarkan. Iya, aku punya banyak teman yang sangat disyukuri. Beberapa dari mereka suka sekali memberi hadiah, buku salah satunya. Dan hampir setiap ketemu teman, pulangnya ada tentengan yang kubawa. Ah, bahagianya.

Perjalanan

Dalam perjalanan, kita akan dipertemukan dengan beraneka ragam manusia. Ada banyak karakter yang kita bisa pelajari. Ada tipe memberdayakan, ada tipe menyenangkan, dan sudah tentu ada juga yang menyebalkan. Belajar lah dari mereka. Perlakukan mereka sebagaimana engkau ingin diperlakukan.