Thursday, June 28, 2018

ESSENTIAL

Setelah mengikuti kelas NLP Essentials Modul 1 dan Modul 2 yang diadakan Indonesia NLP Society tahun lalu, kok caraku berfikir dan mengambil keputusan tiba-tiba menjadi berbeda yaa.. Seperti punya peta mental yang lebih luas. Punya banyak pilihan dan fleksibel dalam memilih. 

Apa yang sebenarnya mas Teddi Prasetya, mas Syamsul Hatta dan mas Andra Hanindyo ajarkan, hingga seperti main sulap simsalabim.. body and mind saya berubah.. prok..prok..prok..

Pelatihan berdurasi dua hari ini memberikan banyak insight yang saya rasakan. 
Tidak mudah untuk menuliskannya dengan kata-kata. 
Karena apa yang berasal dari hati akan kembali ke hati

Training adalah LATIHan yang harus dilakukan dan dimaknai langsung oleh yang bersangkutan.

Penasaran dan ingin merasakan hal yang sama?
Hubungi 0853-7006-0909 untuk tanya-tanya ya..

NLP Essentials Jakarta
Modul 1 Personal Excellence 14-15 Juli 2018
Modul 2 Relationship Excellence 21-22 2018

LEPASKANLAH

Tentang melupakan dan melepaskan ternyata tidak segampang yang dikatakan orang-orang.
Perlu kelapangan hati dan penerimaan yang tak berujung.
Saat lidah berkata ikhlas, seringkali hati belum melakukannya.

Pelan-pelan aku belajar menata hati.
Bukan untukmu.
Tapi untukku.

Agar aku bertumbuh.
Dan mampu melepaskan masa lalu.

Aku bisa menghitung dengan jari berapa kali kita bertatap muka.
Melepas rindu.
Tertawa dan bercanda.

Tapi mengapa kenangan tentangmu tak kunjung menghilang?

Tak ingin terus seperti ini.
Menjadi hamba masa lalu.

Aku punya hidup yang perlu ditata ulang.

Sebelum mengenalmu, hidupku baik-baik saja.
Bahagia.

Lantas mengapa kehadiranmu justru membuat diri ini gelisah?

Aku tahu,
Setiap pertemuan pasti ada hikmah.

Entah Allah ingin mengajarkanku ilmu melepaskan melalui dirimu.
Atau ada rahasia-Nya yang masih tersembunyi hingga saat ini.

Biarlah yang menjadi rahasia bagi Allah,
Akan tetap menjadi rahasia..

Untuk seseorang yang namanya pernah terukir dalam doa..
Kuikhlaskan dirimu pergi..


Wednesday, June 27, 2018

MENDENGARKAN ITU MENYENANGKAN



Dulu sekali, ketika ngobrol aktivitas mendengarkan jarang saya lakukan.
Mendengarkan hanya untuk menunggu giliran.
Mendegarkan hanya untuk bergantian bicara.

Saat mengikuti Training NLP Coach Certification, saya kaget ada latihan mendengarkan. Darisitu saya merasakan bagaimana menyenangkannya didengarkan. Ya, benar-benar didengarkan, bukan hanya menunggu giliran untuk gantian berbicara. Bahagia ketika mata lawan bicara tidak hanya menatap, tetapi benar-benar mendengarkan.

Sejak saat itu saya selalu latihan mendengarkan. Tidak hanya di sesi coaching, tetapi ketika ngobrol dengan teman. Ternyata mendengarkan itu menyenangkan. Mendengarkan sebagai apresiasi kita menghargai lawan bicara. Menunjukkan bahwa mereka begitu berharga. Sehingga apapun yang keluar dari mulut mereka adalah penting.

Ternyata dulu saya tidak menghargai orang lain. Mendengarkan mereka bercerita saja ogah-ogahan.Betapa menyebalkannya saya yang dulu. Mantan, maafkan aku yang dulu. Hahaha..

Mendengarkan atau listening termasuk satu dari delapan kompetensi, yaitu Establishing Dialogue. Ada 3 level mendengarkan. Pertama, Internal Listening, yaitu kesadaran mendnegarkan hanya berada pada diri sendiri dan tidak tercipta dialog. Kedua, Active listening, yaitu membahas apa yang tidak dikatakan, memperjelas gerakan penuh makna. Yang ketiga, Deep listening, yaitu mengenali pola dan merangkumnya, serta mengenali tata nilai, kriteria dan meta program. Untuk bisa lulus menjadi coach harus berada di level ketiga.

Monday, June 25, 2018

ILMU

Jika ingin berdiskusi tentang sebuah ilmu, lakukanlah di forum ilmu, cari tempat diskusi, bukan social media. Karena sosmed hanya akan menjadi debat kusir tanpa akhir. 

Apalagi jika ilmu itu belum pernah kita pelajari. Sangat tidak fair bagi kita men-judge ilmu itu sesat, salah, tidak ilmiah atau tidak berpaedah. Ilmu yang dibicarakan konteksnya ilmu pengetahuan ya, bukan ilmu agama. 

Kalau memang tertarik untuk mengetahui, datangi sumber ilmu terpercaya. Duduk bareng, diskusi, sampaikan literatur ilmiah yang kita punya, itupun kalo ada. Karena sering kali yang menyetakan sesat, salah atau tidak ilmiah adalah orang yang buta akan ilmu itu sendiri. Cuma dengar katanya dan katanya. Belum pernah membaca buku yang berkaitan dengan ilmu tersebut. Atau membaca, tetapi tidak tuntas. Mungkin mendengar selentingan dari orang yang juga tidak paham. Kemudian ricuh menterang di sosial media.

Ikuti pelatihan yang diajarkan oleh orang yang berkompeten. Tentu saja ikut pelatihan yang full yaa.. Jangan sekadar cari sertifikasi, tetapi lebih sering duduk di restorasi. Hihihi..

Kalau kemudian kita nanti sudah mahir dan paham ilmunya, mungkin sudut pandang kita akan ilmu tersebut akan berubah. Bisa jadi kita yang dulu menghakimi ilmu itu akan menjadi pemujanya. Terus mendadak malu udah koar-koar ndak jelas di sosmed. Jejak digital kan sulit dihapus ciiin..

Terus, kalo kita udah pelajari dan paham, tapi ternyata emang ga cocok buat kita gimana? Ya, ga apa-apa. Karena terkadang ilmu itu seperti jodoh, cocok-cocokan. Baiknya kita ga usah nunjuk jari nunjukin kelemahan jodoh orang lain. Tunjukin aja kelebihan jodoh kita sendiri. Ga usah capek-capek ngabisin energi nunjukin kelemahan ilmu yang dipelajari orang lain. Fokus saja tunjukkan kelebihan ilmu yang kita dalami. Karena dalam setiap ilmu pasti ada kebaikan, walau hanya sepercik. Mungkin diri kita yang masih tertutup tabir untuk menerimanya. 

Salam hormat dari pengejar ilmu

Friday, June 22, 2018

Perjalanan Panjang Menuju CPNC



Masih jelas di ingatan Awal Desember 2017 silam, saat mas Teddi Prasetya Yuliawan mengatakan ketika membuka Training NLP Coach Certification, kalau pelatihan ini bukan tentang sertifikat. Bahkan setelah lulus, sertifikat ini 'tidak ada harganya'. Karena sertifikat hanyalah sebuah kertas, yang terpenting adalah skill yang dimiliki, setelah melalui perjalanan panjang mengikuti kelas tatap muka selama 6 hari dan ujian 2 kali dengan nilai minimal 3 di 8 kompetensi.





Aku baru mengamini kata-kata beliau 5 bulan setelahnya. Saat menerima selembar kertas berwarna putih bermotif biru bertuliskan namaku dengan embel-embel baru, CPNC. Ada rasa haru menyeruak di dada saat mas Teddi menyerahkan sertifikat keramat ini di depan mas Syamsul Hatta, mas Andra Hanindyo dan mas Darmawan Aji, guru yang tak pernah bosan mendampingiku belajar ilmu coaching. Bahkan belasan peserta NLP Coach Batch 5 mengabadikan momen bahagia ini. Salah seorang peserta dari Jogja malah ingin berfoto meminjam sertifikatku sebagai visualisasi dan penyemangatnya. Hahaha.


Ingatanku terbang melintasi perjalanan panjang yang sudah dilalui. Bagaimana perjuanganku untuk mengikuti pelatihan ini. Kemudahan demi kemudahan Allah berikan saat aku bertekad ingin mempelajari ilmu coaching, kata yang mungkin masih terdengar asing di telinga sebagian besar orang.

Aku lupa kapan persisnya mendengar kata coaching ini untuk pertama kali. Mungkin pertengahan Juni 2015, saat mengikuti NLP Conference di Lumire Hotel, Jakarta. Saat itu aku pertama kali bertatap muka dengan bapak Kurnia Siregar. Ternyata beliau adalah mantan Vice President International Coach Federation (ICF). Meski tak mengikuti kelas beliau, siapa disangka dua tahun setelah itu aku bisa silaturahmi dengan beliau di Medan. Ya, dari nama belakangnya kalian bisa menebak dengan mudah kalau beliau berasal dari kota yang sama denganku. Acara yang Loop Asia Consulting adakan di Medan bersliweran di linimasa facebook. Pak Kurnia, begitu ia biasa disapa, memanggil alumni Loop untuk meramaikan kegiatan di Medan. Bermodalkan ilmu SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) yang kuimiliki, aku mengungkapkan keinginanku untuk silaturahmi dengan beliau, meski aku bukanlah alumni. Tak disangka, beliau dengan ramahnya memberikan waktu dan nomer WA-nya untuk mempermudah berkomunikasi. Kemudian aku menemui coach ganteng ini di Coffe Crowd Ringroad Citywalk usai ia meeting. Saat aku menunjukkan ketertarikan mempelari ilmu coaching, pria kelahiran Medan itu menawariku untuk mengintip sesi coaching di Bank Sumut dan MM USU keesokan harinya. Begitulah perkenalanku dengan coaching.








Bermodalkan ngintip sesi coaching tersebut aku semakin tertarik mempelajari apa sih sebenarnya coaching itu. Setelah mencari dan mengumpulkan informasi tentang Pelatihan Coaching, ternyata biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Aku belum punya budget untuk itu dan jujur saja saat itu merasa kalau tiba-tiba aku dapat rezeki nomplok sejumlah biaya pelatihan itu, kayaknya aku lebih milih jalan-jalan ke Eropa. Hahaha. Begitulah saat itu tekadku ternyata belum begitu kuat, kemudian aku memilih membeli buku 'Sukses Menjadi Profesional Coach', yang ditulis oleh pak Kurnia Siregar dan bu Ina Rizki. Yang mengejutkan lagi, saat bertemu dengan Kang Adang Adha, seorang Trainer dan Coach, ia memberiku buku 'Sukses dengan Coaching' yang ditulisnya bersama 26 Coaches lainnya. Begitulah cara semesta mendukungku mempelajari coaching. Perlahan-lahan dibukakannya jalan.



Pengalaman pertama menjadi coachee (orang yang dicoaching) justru saat mbak Arie Kusuma Dewi dan mbak Chita Harahap membutuhkan klien sebagai syarat kelulusan ujian coaching. Aku bahkan masih ingat tanggalnya 9 Agustus 2017. Hari Minggu, sesudah Practice Group di Cibubur. Menjadi tanggal keramat yang tak terlupakan. Awalnya merasa bingung, 'kok ditanya-tanyain terus sih'. Tapi setelah selesai sesi coaching aku mendapatkan jawaban atas permasalahan yang sudah lama mengganggu pikiranku. Bahkan aku merasa plong, lega dan mantap mengambil keputusan penting terkait masa depanku. Tak perlu kuceritakan dengan detil prosesnya, karna agak sulit melukiskannya dengan kata-kata, tetapi masih terasa hangat di dada. Tsaaaaah.



Kalau menjadi coachee yang dibantu menyelesaikan permasalahannya saja rasanya bahagia, keinginanku untuk menjadi coach semakin menggebu-gebu. Terbayang bagaimana bahagianya saat bisa membantu klien menyelesaikan masalahnya. Binaran mata coachee setelah selesai sesi coaching, seperti yang aku alami. Dan aku mengumpulkan tekad, bagaimanapun caranya aku harus mengikuti pelatihan NLP Coach Certification yang diadakan Indonesia NLP Society Awal Desember 2017. Kendala biaya tak menyurutkan keinginanku. Segala cara aku tempuh agar bisa mengikuti kelas 6 hari. Bahkan aku stay di Jakarta agar tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tiket pesawat. Alhamdulillah jalanku dipermudah. Aku dipertemukan dengan beberapa orang yang berniat menolongku. Entah dasar apa ada malaikat yang mensubsidi hampir separuh biaya pelatihan tersebut. Orangnya ga ngomong apa-apa, malah meminta panitia merahasiakan, tapi firasatku sangat kuat. Dan akhirnya aku bisa duduk di Hotel Amaris Kemang bersama 15 pembelajar lainnya yang berasal dari kota Jakarta, Bandung, dan Malang.

Jangan ditanya bagaimana stress nya aku sebelum dan saat mengikuti kelas NLP Coach. Bolak balik bertanya dan meminta saran pada peserta training batch sebelumnya. Bahkan aku mendadak jadi pendiam selama 6 hari mengikuti kelas. Hahaha. Iya, aku yang biasanya ribut mendadak 'bisu' dan diam seribu bahasa. Tak pernah bertanya, padahal ga ngerti. Tak pernah juga menjawab saat trainer bertanya. Hahaha. Begitulah proses belajar coaching mengubah diriku.



Setelah kelas 6 hari selesai apakah kami langsung mendapatkan sertifikat? Tentu tidak.
Tugas berikutnya adalah mempraktekkan ilmu yang telah kami terima. Kami diminta praktek coaching 30 sesi. Dan kemudian masalahnya satu persatu mulai muncul. Here we go.. Dimana aku mencari orang yang mau dicoaching yaa.. Kalau di Medan sih ini tidak akan menjadi masalah buatku. Saudara dan temanku berhamburan di kota klakson. Nah, kalau di Jakarta??? Aku punya beberapa teman sih di Jakarta, hanya saja mereka sangat sibuk. Gimana cara menyatukan jadwalnya. Belum lagi kantor tempat mereka bekerja berjauhan dengan rumah sepupuku, tempatku menumpang selama di Jakarta.

Lebih dari 2 minggu setelah kelas tatap muka berakhir, aku belum juga mulai praktek coaching. Semua rekan pembelajar training NLP Coach Certification Batch 4 sudah mengupdate jumlah sesi coachingnya di WA Group. Ada yang 1, 2, 5, bahkan ada yang sudah 30 sesi. Dan aku belum pecah telur sama sekali. Perhatian teman-teman dan trainer saat menanyakan mengapa aku tak kunjung latihan, justru membuatku malas membuka group. Rasanya seperti orang yang terasing. Aku memilih menghilang sejenak dari WAG. Jangankan komen di group, aku bahkan tak lagi membaca apa yang tertulis disana. Sampai-sampai mas Teddi japri. Beliau baru bilang assalamu'alaikum saja aku sudah malas membukanya karena sudah tahu alasan dan tujuannya ingin menanyakan perkembangan coachingku. WA beliau baru keesokan harinya kubalas. Hahaha. Maafkan aku mas Teddiiii. Tapi yang pernah dijapri mas Teddi pasti tahu persis gimana deg-degannya. Terlebih-lebih saat kita melakukan kesalahan atau belum melakukan tugas, seperti yang aku alami. Konon kabarnya 'Teddi is typing' bisa menimbulkan state tertentu. Hahahaha.

Akhirnya karna tak kunjung mendapat coachee di Jakarta, aku pergi berlibur ke Bandung. Sebenarnya saat di Jakarta aku sudah janjian dengan beberapa teman yang berminat dicoaching. Tapi saat hari H mereka membatalkan janji. Alasannya ada yang sakit, ada keperluan mendadak, atau didatangi mantan. Hahaha. Yang terakhir tentu saja aku ngarang. Di Bandung lah aku pertama kali melakukan sesi coaching, dengan orang yang tak dikenal pula. Berkat bantuan teh Melly, teman seperjuangan batch 4, aku mendapatkan coachee (orang yang dicoaching, red). Tidak hanya satu, melainkan empat sekaligus. Dan pengalaman praktek coaching beneran dengan klien ini justru menimbulkan perasaan yang kuat untuk terus berlatih coaching. Saat melihat klien meneteskan air mata, ada rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Haru. Bahagia. Semangat. Intinya mengazzamkan diri mempelajari dan mempraktekkan ilmu coaching ini, tidak hanya sekadar memenuhi syarat 30 sesi, tetapi meluruskan niat agar bisa membantu menyelesaikan masalah orang lain.

                                                       Sesi Coaching Pertamaku


Jatuh bangun belajar coaching ini seperti naik roller coaster. Ada rasa khawatir, takut, malas, tetapi setelah selesai melakukan coaching, ketagihan dan pengen coaching lagi. Menimbulkan rasa candu, seperti ketemu kamu. Hahaha. Alhamdulillah, pelan tapi pasti 30 sesi coaching sebagai syarat kelulusan terpenuhi. Apakah langsung serta merta menjadi certified coach? Tentu tidak. Masih ada minimal dua ujian lagi yang harus dilewati. Ujiannya tentang teori kah? Apakah soalnya pilihan ganda? Ujiannya PRAKTEK gaeees.. Jadi kita melakukan sesi coaching dan ada asessor yang mengamati dan mencatat dosa-dosa kita. Hahaha. Latihan coaching aja udah bikin deg-degan, gimana lagi kalau ada asessor kan? Yang ada grogi dan blank. Mendadak bingung mau nanya apa ke coachee. Hahaha. Sampai-sampai pernah kejadian di menit-menit terakhir, coachnya ngomong 'Abis ini nanya apa lagi yaa..'. Hahaha. Konon kabarnya ujian coaching ini lebih nyeremin daripada ketemu calon mertua. Hahaha.

Ujian pertama ga usah ditanya gimana deg-degannya. Ngalah-ngalahin Ujian Sidang Skripsi. Hahaha. Dibatasi waktu 30 menit, 8 kompetensi dinilai. Baru satu kompetensi yang berhasil kuperoleh nilai 3, yaitu Coaching Agreement. Itupun karna malam sebelumnya mentoring sampai jam 10 dengan mas Andra Hanindyo. Alhamdulillah, pencapaian sekecil apapun patut disyukuri.



Ujian kedua, yang dilakukan sebulan setelah ujian pertama, justru aku lakukan dengan tidak percaya diri. Jadi ceritanya setelah selesai ujian pertama, aku memutuskan untuk pulang ke Medan. Lumayanlah, sebulan bisa berburu coachee di Medan. Anehnya, sejak coaching di Medan aku merasa skill coaching yang kumiliki menurun drastis. Entah apa sebabnya, aku pun tak mengerti. Mungkin karena sempat berjeda panjang antara sesi coaching yang terakhir kali kulakukan dengan yang kulakukan di Medan. Rasanya seperti melakukan latihan coaching untuk pertama kali. Gugup, blank, bingung mau nanya apa. Jujur saja aku tidak berharap lulus satu kompetensi pun di ujian coaching yang kedua ini. Niatku hanya latihan dan menambah sesi coaching saja. Belajar dari feedback yang diberikan pak guru. Eh, ternyata justru di ujian kali ini aku lulus 3 kompetensi. Ya, masih kompetensi yang diawal-awal sih, Establishing dialogue, Insightful Questioning dan Coaching Agreement. Benar-benar ga disangka. Begitulah mungkin saat ga punya ekspektasi apa-apa, justru membuat kita let it flow, yang ternyata hasilnya lebih maksimal.




Ujian ketiga adalah ujian terburuk sepanjang hidupku. Pede banget merasa harus lulus, secara udah ujian 3 kali, 30 sesi sebagai syarat kelulusan juga sudah dipenuhi. Ternyata hasilnya jauh dibawah ekspektasi. Bahkan di beberapa kompetensi yang sebelumnya aku sudah lulus saja, saat ujian ini malah ga nyampe 3 score-nya. *Nangis Kejer* Parahnya goal sesi aja belum ke-grab dengan baik. Masih belum spesifik dan terukur goal sesi saat itu. Alih-alih mengharapkan lulus, kompetensi yang sudah ada malah menurun. Ujian kali ini mengajarkanku untuk tidak boleh takabbur. Ga boleh jumawa. Jangan sombong. Berharap boleh, tapi jangan ketinggian. Berharap cuma boleh sama Allah, kalo ga ntar kecewa. Kalo mau segera lulus ujian ya perbanyak latihan coaching. Kalau bisa setiap hari 1 sesi coaching minimal.



Ketika NLP Essentials modul 2 dilaksanakan, aku memberanikan diri meminta mas Syamsul Hatta yang mengisi pelatihan tersebut untuk mengujiku. Meski sesaat sebelum ujian aku hendak membatalkan ujian karena mbak Dewi, teman seangkatan yang kuharapkan menjadi coachee sudah punya janji dengan yang lain. Namun bukan mas Syamsul namanya kalau membiarkanku menunda ujian. Coachee bukan alasan, bahkan ia mengajukan diri menjadi coachee untuk bahan ujianku. Haduh, bisa-bisa belum mulai ujian aku udah blank duluan. Hahaha. Iya, knowing nothing state memang masih Pe-er banget. Beberapa kali latihan sesi coachingku gagal jika coachee-nya adalah seorang coach. Bahkan aku pernah berkata, "Nanya apa lagi yaa.." pada teh Rita yang kucoaching awal-awal dulu. Hahaha.

Alhamdulillahnya bu Betty, salah seorang peserta NLP Essentials, mengajukan diri menjadi coachee. Dan alhamdulillahnya lagi proses coaching berjalan lancar. Aku tidak pernah senyaman ini melakukan sesi coaching sebelumnya, meski di awal-awal sempat gugup juga. Tapi begitu mas Hatta yang menjadi asseseor pindah duduk ke belakang, aku jadi nyantai banget. Ga berasa ujian. Dan menjadi Pede banget karena merasa coachee juga belum pernah dicoaching ini dan aku meniatkan untuk membantu beliau mencapai target yang diinginkannya. Ternyata itu sangat membantu sekali. Aku mendapatkan nilai 3 untuk 8 kompetensi. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.



Apakah aku lulus? Belum, karena masih ada 3 kompetensi yang memperoleh nilai 3 baru sekali. Sementara syarat kelulusan adalah nilai 3 dua kali di 8 kompetensi. Jadi aku perlu ujian sekali lagi sodara-sodara. Dengan semangat 45 aku mengiyakan ajakan mas Teddi untuk ujian di hari libur. Janjian di Gramedia Matraman jam 2 siang. Aku gugup luar biasa ketika jam sudah menunjukkan lebih 15 menit dari waktu yang disepakati, mbak Dewi yang menjadi coachee ku belum sampai di TKP. Dan ga bisa dihubungi pula HPnya. Panik, gregetan, nervous, kesal dan ga enak sama mas Teddi yang sudah menunggu bercampur menjadi satu. Akhirnya ketika mbak Dewi menampakkan batang hidungnya, aku sedikit lega. Namun tak bisa menutupi kegugupanku di awal sesi coaching. Nyaman sih, bahkan tak seperti biasa, aku sama sekali tak terganggu dengan suara-suara pengunjung lain di Dunkin Donut Gramedia Matraman yang berlalu lalang.






Sayangnya aku salah menggunakan coaching tools. Harusnya bisa pake edit submodality aja udah beres, plus menggunakan hypnotic language tentunya, bukan dengan suara datar seperti yang kulakukan, hahaha. Saat itu aku sok-sokan menggunakan Perceptual Position, karena menganggap masalah yang dihadapi coachee adalah konflik dengan orang lain. Karena terlalu lama bermain-main dengan Perceptual Position, udahlah masalahnya belum kelar juga, eh waktu 30 menit mendadak habis. Saat mas Teddi mengatakan waktu habis, jujur aku pengen nangis. Karena belum sempat Designing Action. Gimana mau lulus kalau masih ada coaching competency yang belum keluar. Aku sangat berharap ini adalah ujian terakhirku. Hiks..Hiks..

Syukurnya setelah memberikan feedback dan melatih hypnotic languange-ku, mengajariku untuk memainkan jeda dan nada, mas Teddi meminta aku untuk ujian lagi, melanjutkan sesi coaching yang sebelumnya. Jujur saja disini kata lulus sudah kuhapus dari kamusku. Yang ada di kepala cuma gimana caranya aku bisa membantu coachee menyelesaikan masalahnya. Aku menggeser harapan dan ekspektasi lulus. Anehnya justru aku lulus beneran. Alhamdulillah. Mungkin kalau kita tidak terpaku dengan ujian dan lulus, kita jadi tidak punya ekspektasi apa-apa. Dan menjadi lebih smooth dan mengalir. Saat mas Teddi menyebutkan skor 3 dibeberapa kompetensi dan mengatakan aku LULUS, rasa haru menyeruak di dada. Hangat dan tak mau pergi. Apalagi ketika mas Teddi mengumumkan kelulusanku di WAG INLPS Coaching, ucapan selamat dari guru, sahabat seperjuangan dan kakak kelas membuat rasa bahagia berlipat ganda. Sampe ga bisa tidur.



Perjalanan panjang mengikuti Training NLP Coach Certification sampai memperoleh gelar CPNC (Certified Professional NLP Coach) berputar seperti film. Potongan scene saat keluar masuk ruang Amaris 2 dan toilet karena aku bolak balik batuk. Bayangan pagi hari naik sepeda sambil mengulang materi yang sebelumnya sudah dibahas, sambil berolahraga sebelum berangkat ke Kemang, gambar saat aku duduk diam saja di ruang pelatihan. Semua terpampang nyata. Sampai saat aku pertama kali menjalankan sesi coaching, airmata klien yang tak berhenti menetes, ujian demi ujian yang dilalui. Mentoring demi mentoring yang dilakukan secara tatap muka dan online. Ah, perjuangan itu emang indah. Dan buah kemanisannya baru bisa kita petik saat sudah melalui semuanya dan lulus. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam yang sudah menguatkanku untuk menjalani perjuangan panjang ini. Semoga ilmu yang diperoleh barokah dan bermanfaat bagi banyak orang. Karena ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari perjalanan. Seperti kata mas Teddi, lulus adalah keterangan siap berkarya. Jadi setelah ini yang ditunggu adalah karya-karyanya. Berapa banyak orang didampingi mengembangkan diri. Dipandu menjadi lebih baik. Diajak menjalani kehidupan yang naik level. Insya Allah.

Dikasi jempol sama 4 guru itu bahagiaaa. Terima kasih ilmunya ya pak guru
Terima kasih yang tak terhingga untuk guru yang super sabar mengajariku dari nol: Mas Teddi, mas Hatta, mas Andra dan mas Aji. Rasanya ga ada kata yang bisa mewakilin ucapan terima kasihku untuk mereka. Semoga segala kebaikan dan ilmu yang dialirkan akan dibalas Allah Swt dengan rezeki berkah melimpah, kesehatan paripurna dan dimasukkan ke Surga-Nya. Hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk guru humble rasa sahabat ini. Guru yang ga pernah mau dipanggil guru, karena menurut mereka kita sama-sama belajar. Guru yang ga pernah menggurui dan selalu tampil menjadi manusia biasa tanpa mengenal kata jaim. Terima kasih mas-mas guru teman belajar.. Jasamu takkan pernah kulupakan.

Terima kasih untuk para kakak kelas yang sudah memotivasiku untuk mengikuti kelas NLP Coach hingga berhasil lulus ujian menjadi certified coach: Mbak Arie Kusuma Dewi, mbak Chita Harahap, mbak Anda, teh Lya, teh Rita, teh Rani. Terima kasih untuk teman seperjalanan yang membuat perjuangan ini menjadi super indah dan tak terlupakan: teh Melly, mbak Dewi, mbak Sari, bu Nastiti, cici Natali, kang Dodi, kang Khairil, Kang Fikri, kang Irwan, kang Oscar, mas Adi, mas Adam, mas Sata, dan mas Ryan. Ayo lanjutkan terus latihan coaching dan ujian, kita semua harus luluuuus.. Jangan mau kalah dengan batch 3 dan batch 5.

Bagi teman-teman pembaca blog yang ingin mencicipi sesi coaching, silahkan hubungi:
0853 7006 0909 yaa..

Makasi banyak udah membaca tulisan super panjang ini. Semoga bermanfaat..


Salam,


Aini Tarigan, CPNC










Monday, June 18, 2018

SENDIRI

Terbang bersama angin atau tinggal ditemani rembulan
Tak butuh banyak kata jika mulai memudar
Tak perlu untaian mesra jika hati bertaut
Rindu tak lagi tuk dihamparkan

Pada akhirnya kau juga akan pulang
Sendiri..
Dalam sepi
Tanpa teman
Tanpa irama

Bahkan bayangan pun sembunyi
Selamat mewujudkan mimpi

BARU

Suatu senja di musim yang lalu
Aku tak lagi termangu
Melepas kepergianmu
Dengan senyumku

Waktu itu hari Minggu
Hari baru untukku
Lepas dari bayang-bayangmu
Menyambut harapan baru

Selamat datang kehidupan baru
Titik balik dalam hidupku
Mungkin penuh haru
Dan lika-liku

Sunday, June 17, 2018

PERGI

Semua orang mungkin ingin pergi
Bisa dihitung jari yang ingin kembali
Ibarat senandung hati
Masihkah dawai berdenting lagi

Hati..
Bongkahan kecil di dalam diri
Mengalirkan energi
Penghilang sepi

Diri..
Kau pemegang kendali
Jangan pernah lari
Atau ingin sembunyi

Melodi..
Penyemarak hari
Bahwa hidup tak abadi
Kelak akan disambut mati


Friday, June 15, 2018

RENUNGAN PERJALANAN

Di bawah rintik hujan aku berjalan
Merenungi arti pembelajaran
Adakah perjalanan ini mendekatkan tujuan

Sayup-sayup diiringi azan
Aku bertanya ke dalam bayangan
Apa yang sudah kau temukan

Wahai diri..
Adakah semua ini yang benar-benar kau cari
Coba renungi lagi
Ulangi melintas ke dalam hati

SEBAIT DOA

Terhampar aku dalam dekapan
KaruniaMu yang kerap lupa disyukuri
Ini aku datang lagi
Mengetuk pintu taubatMu

Bukan, mungkin taubat bukan kata yang tepat
Karena idealnya itu tak lagi diulangi
Saat kau sadar segala dosa
Mungkin ini cuma sekadar meminta
Merayu agar permintaanku segera Kau kabulkan

Ah, aku masih manusia
Yang kerap ego dan selalu ingin menang sendiri
Terlalu ambisi mengejar cita-cita pribadi
Yang sayangnya tak dibawa mati

Diantara ratusan manusia yang ada disini
Aku merasa sendiri
Terbayang sgala dosa yang kerap diulangi
Menghitung amalan yang jarang terjadi

Ah, diri..
Mau kemana sebenarnyadirimu dibawa
Apa yang sebenarnya kau kejar disini
Izinkan aku meletakkan kening di sisiMu
Dan merasakan kasih sayangMu
Yang tak terganti dengan baldu

Bimbing aku untuk melepas apa yang tak perlu
Sampai saatnya Kau memanggilku

IMAJI

Tak kan pernah habis rinduku untukmu
Pujaan hati di ujung katulistiwa
Tak pernah berhenti membuatku
Belajar tersenyum dan tertawa sesaat setelah airmata


Tak pernah setengah hati
Mengeja impian hingga di genggaman jemari
Tak pernah beranjak dari hati
Seperti hari ini
dan nanti..


Tak pernah aku niati
Untuk meninggalkanmu jauh di ujung hati
Maafkanku hanya ingin sendiri
Dalam relung imaji



Thursday, June 14, 2018

APRESIASI

Terkadang hanya dengan satu kalimat sederhana,
Kita menjadi sangat berharga.
Sampai tak sadar air menetes dari sudut kelopak mata.
Lantas mengapa tak kita biasakan memberi apresiasi?
Bukankah apapun yang berasal dari hati,
Pasti akan kembali ke hati.

Mungkin awalnya akan terasa aneh.
Tapi itu akan melunturkan pongah.
Ayo terus dilatih.
Karna akan mengikis resah.
Bukan, ini bukan gombal receh.

 Rasa yang menyeruak di dada,
Bukan hanya gembira dan bahagia.
Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Iya, aku kesulitan memberi nama.
Tapi aku bisa merasakannya.
Hangat di dada,
Kemudian menjalar ke mata.
Ah, cinta..

Catatan Pembelajaran bersama Indonesia NLP Society.

NLP Coach Certification Batch 5, Day 2.
Terima kasih para guru dan teman pembelajar dari 6 kota :
Jakarta, Bandung, Lampung, Surabaya, Jogja dan Makassar.
Energi yang dialirkan membuatku tersadar, belajar itu tak mengenal jarak, jika ada kemauan.
Bahwa benar tak ada rintangan jika kita terus berjalan.
Tak ada lelah kecuali lillah.

Tulisan ini dibuat karena terinspirasi video yang diputarkan mas Andra Hanindyo.
Tulisan ini dibuat sebagai pengingat agar terus memberikan apresiasi kepada diri dan orang lain.
Ah, saat menuliskan ini jadi pengen nangis lagi. Seperti saat di kelas waktu itu. Menangis dan berpelukan. Padahal sudah dua kali menonton film yang sama dan mengikuti sesi yang serupa.

SEBUAH CERITA

Tentang sebuah cerita
Yang mungkin tiada akhirnya
Kita terus disuruh berjalan
Walau beribu rintangan

Melangkah tanpa keluh
Berjalan tanpa kesah
Menari tanpa pongah
Berlari tanpa tergopoh

Melangkah saja
Sampai semua menjadi cerita bahagia
Yang akan kita kenang bersama

BERHENTI

Aku berhenti menghitung jemari
Sudah berapa kali menatapmu pergi
Dari titik yang tak kau yakini
Ada cerah yang tak bisa rekat kembali


Aku berhenti mendengarkan melodi
Petikan gitar yang membawaku kesini
Ke kota tempat cinta kita pertama kali bersemi
The Old City of Melancholy


Aku berhenti mencintaimu dalam diam
Sakit ternyata menggulung kelam
Dalam lipatan bernama temaram
Yang sulit didefinisikan malam


Aku berhenti melangkah
Menjauh dari pongah
Mengiris rindu menjadi celah
Sampai kau resah


Aku berhenti
Memanggil jeritan hati
Karna bagiku kau telah mati
Membawa separuh hati


RAMADHAN PERGI



Ramadhan akan segera pergi
Tapi perbuatan baik tak boleh lari
Amal ibadah perlu tetap ada di sisi
Untuk menjaga sanubari

Ramadhan boleh pergi
Tapi perbuatan buruk tak boleh kembali
Tetaplah menjalankan perbuatan baik hingga menjadi presisi
Dan terbentuk kebiasaan diri

Ramadhan pergi
Semoga tahun depan kita bertemu kembali
Meningkatkan ibadah diri
Memperbanyak amal setulus hati

Syawal besok datang lagi
Menjadi hari yang dinanti
Umat Islam di seluruh penjuru bumi
Berkumpul di hari yang fitri

Wednesday, June 13, 2018

MENULIS NAMA






Menuliskan nama di pasir
Tentu takkan abadi
Karna akan segera direlung ombak
Tersapu dan pergi
Dan takkan kembali

Mungkin begitu juga dengan hidup
Karena tak ada yang abadi
kecuali Sang Illahi

Namun sebelum pergi
Tinggalkan nama baik
Tinggalkan prestasi
Tinggalkan manfaat
Semoga itu akan jadi amal pemberat
Di Yaumil Mahsyar kelak

JATUH

Jika harus jatuh, jatuhlah di tempat yang tepat.
Yang kau yakini takkan membuatmu terluka lagi.
Kalau tak yakin, setidaknya kau harus yakin bisa bangkit.

Jatuhlah di tempat yang tepat..
Yang kau yakini bisa membuatmu bersandar dan menopangmu untuk berdiri.
Karna yang namanya bersandar tak mungkin segalanya.

Jatuhlah di tempat yang tepat..
Jika tak yakin itu tempat yang tak tepat, Agar jangan jatuh.
Apalagi sampai jatuh di tempat yang sama, berulang kali.

Jatuhlah di tempat yang tepat..
Pastikan titik jatuhmu sebelum terlalu dala.
Atau mungkin kau butuh jarak untuk menjauh sejenak.
Meski tak ada seorangpun yang menyukai konsep itu.

Jatuhlah di tempat yang tepat..
Jatuhlah di saat yang tepat..
Meski sering kali jatuh tidak bisa direncanakan.
Tapi mungkin sebaiknya dipersiapkan.

Jatuhlah di tempat yang tepat..





MELEPASKAN

Aku berhenti menyebut namamu dalam doa
Meski harapan tentangmu tak pernah pudar
Biarlah alam semesta bekerja sewajarnya
Hingga semua berakhir dengan sebuah ikrar

Hidup perlu terus berjalan
Meski kita tak lagi jalan beriringan
Tapi perjalanan selalu memberi pelajaran
Ada sesuatu yang butuh pemaknaan

Melepaskan..
Mungkin ini yang dibutuhkan
Agar cinta tak terus menerus dihamparkan
Meski mengeja waktu dalam hitungan

Tuesday, June 12, 2018

Masjid Istihrar

Abu Sinabung mungkin bisa menutupi kubah masjid
Tapi semangat kami untuk shalat berjamaah tetap penuh tekad

Dinginnya kota Brastagi
Tak menyurutkan langkah kaki
Untuk terus mengaji

Kami mungkin menggigil
Menghadapi jalan terjal
Tapi kami sadari ada yang mengganjal
Mengaji perlu dicicil

Angin bertiup kencang
Tak membuat surut berpantang
Sekali layar terkembang
Umat islam harus menang

MENUNDA

Kita hanya diminta menunda kesenangan sejenak, sampai tiba saat yang digantikan. Hingga semua akan terasa lebih indah. Kita diperintahkan berpuasa sejak azan subuh hingga tenggelam matahari. Kita diminta berbuka puasa begitu azan maghrib berkumandang. Dan rasanya nikmat sekali.


Air putih yang rasanya biasa saja akan terasa nikmat ketika membasuh dahaga saat berbuka puasa. Itulah nikmatnya menahan. Kenikmatan justru terletak saat kita menunda. Dan esensi menunda tidak hanya terasa indah dalam hakikat ibadah saja. Tapi lebih luas dari itu, bisa diterapkan dimana saja.

Menunda beristirahat sampai saatnya tiba dan tubuh sudah merasa capek, tentu akan terasa berbeda dengan yang istirahat terus menerus satu harian. Menunda makan hingga benar-benar lapar, tentu berbeda kadar kenikmatannya dengan yang makan saat masih kenyang.

Begitu lah wahai diri..
Kita perlu menunda agar terasa lebih nikmat. Kita diminta menunda agar kenikmatannya terasa berlipat ganda. Jangan kau anggap remeh atas penundaan. Allah hanya minta dirimu bersabar demi kenikmatan yang hakiki.

Jangan karena tak mampu menunda sedikit kenikmatan, dirimu justru menyesal karena kehilangan kenikmatan yang berlipat ganda. Jangan hanya karena kenikmatan dunia yang tak bisa kau tunda sebentar saja, dirimu kehilangan kenikmatan akhirat.

Monday, June 11, 2018

TERMANGU

Menggigil dalam kelam
Tak ada yang bisa diputar ulang
Manfaatkan setiap detik yang merajam
Agar menjadi amal yang berulang

Hidup yang kita lalui sekarang
Harus dipertanggungjawabkan
Ketika jam tak lagi berdentang
Lalu semua kaku dalam kematian

Biarkan aku menebar manfaat
Agar tak menyesal setiap saat
Demi mengharapkan syafaat
Kuhaturkan sholawat

Hidup bukan lagi tentang aku
Yang kerap termangu
Memikirkan masa lalu
Bersimbah dosa kelabu

Membangun cerita baru
Demi kehidupan untuk-Mu
Kuserahkan jiwaku
Dalam genggaman-Mu

Rabbi..
Faghfirlii
Jauhkan aku dari sifat dengki
Yang mencabik hati

BENCANA

Janganlah takut pada Sinabung
Tapi takutlah pada Dia yang menciptakan Sinabung
Mengapa engkau lebih takut pada bencana
Daripada yang menciptakan bencana

Gunung bisa Ia ledakkan
Gempa bisa Ia datangkan
Banjir bisa Ia alirkan
Kebakaran bisa Ia munculkan

Dalam sekejap
Dalam hitungan detik
Kun Fayakun..

Tidakkah kau berpikir
Tidakkah kau memperhatikan

Bukan matamu yang buta
Tapi hati di dalam dada

Sunday, June 10, 2018

TEMANI AKU

Ajarkan hati agar tegar seperti karang
Kokoh meski badai menghadang
Tak peduli gendang berderang
Sampai waktu tak berbilang

Izinkan aku menemani dalam sepi
Dengan senyum tanpa henti
Lirih tak bertepi
Bagai dawai tanpa melodi

Jangan tinggalkan aku
Sampai aku menjelma seperti salju
Pinjamkan aku pundakmu
Sampai waktu tak bertemu

FATAMORGANA KEHIDUPAN

Yang terlihat indah, bisa menyeramkan
Yang terlihat baik, bisa jadi membawa keburukan
Yang terlihat buruk, bisa saja membawa kebaikan

Jangan terlalu percaya dengan yang terlihat
Jangan terlalu mengagungkan apa yang kita lihat
Karena hanya Allah Yang Maha Mengetahui
Karena Allah Maha Menutup aib

Tanyakan pada Allah
Apakah yang kita lakukan membawa kebaikan?
Atau justru membawa keburukan

Tanyakan pada Allah
Pada setiap hal yang ingin kita lakukan
Pada setiap pertemuan
Pada setiap nadir kehidupan

Jangan pernah dikte Allah atas keinginanmu
Jangan pernah hakimi Allah atas musibah yang kau terima
Jangan pernah paksa Allah memenuhi semua hajatmu
Jangan pernah..

Karena bisa jadi ia menyimpan kebaikan
Ia mungkin hanya memintamu bersabar
Ia hanya memintamu bersyukur
Ia hanya mengajakmu belajar

Sudahkah kau lakukan?

GELOMBANG PASANG

Mencoba tenang dalam gelombang
Menerjang hati yang berkeping
Serpihan cinta mungkin hilang
Hingga genderang menabuhkan perang

Biarkan hati ini bersenandung
Dalam sujud meletakkan kening
Namamu kan slalu kukenang
Sebagai badai pasang

Harmoni Ramadhan

Masjid sepi
Santri sudah pergi
Ramadhan ibarat melodi
Bergantian memainkan harmoni

Hati jangan sunyi
Ramadhan masih disini
Memohon ampun jangan berhenti
Harapkan rahmat Illahi Rabbi

Duhai diri..
Hamparkan sajadah panjang ke lantai
Bulirkan tasbih hati
Untuk memuji Pencipta Bumi

Saturday, June 9, 2018

BARU

Terkadang yang kita butuhkan hanya keluar sejenak dari tempat dan rutinitas yang membuat kita jenuh. Lama tak beraktivitas diluar rumah, tentu akan menimbulkan kebosanan. Lama tak melakukan aktivitas baru, tentu berteman dengan jenuh.

Lakukanlah hal baru, meski itu kecil. Toh lama-lama nanti akan membentuk kebiasaan baru. Perlahan-lahan. Satu demi satu. Temui orang baru, maka kau akan menemukan ilmu baru. Kunjungi tempat baru, minimal setahun sekali. Tak usah jauh - jauh ke negeri tetangga, kau bisa menjelajahi sekitar tempat tinggalmu jika pergi keluar kota tak memungkinkan.

Segala sesuatu perlu direncanakan, teman..
Rancang hidupmu agar tak melulu begitu saja dari tahun ke tahun. Jangan bangga hidup mengalir saja, karena air toilet pun kan mengalir ke kubangan.

Monday, June 4, 2018

HARAPAN

Apa yang salah dengan harapan?
Tak ada, kecuali kamu meletakkannya ketinggian
Saat segala sesuatunya dalam ketidakpastian
Mau kemana langkahmu berjalan

Sudah dengar sabda
Berhenti berharap pada manusia
Atau kau akan kecewa
Kemudian menoreh luka

Hargai saja segala kebaikan
Dan ilmu yang telah diajarkan
Lupakan segala kesalahan

Bersandarlah hanya pada Dia Sang Maha Kokoh
Berharap hanya pada Sang Maha Pemberi Harapan

Semoga perjalanan ini mengokohkan pundakmu
Untuk terus berjalan tanpa penyesalahan
Jangan pernah berhenti sampai semua selesai dan menjadi cerita membahagiakan

Selamat melanjutkan perjalanan, kawan..

Sunday, June 3, 2018

WAKTU

Menggigil dalam kelam
Tak ada yang bisa diputar ulang
Manfaatkan setiap detik yang merajam
Agar menjadi amal yang berulang

Hidup yang kita lalui sekarang
Harus dipertanggungjawabkan
Ketika tak ada lagi jam berdentang
Lalu semua kaku dalam kematian

Biarkan aku menebar manfaat
Agar tak menyesal setiap saat
Demi mengharapkan syafaat
Kuhaturkan shalawat

Hidup bukan lagi tentang aku
Yang kerap termangu
Memikirkan masa lalu
Bersimbah dosa kelabu

Membangun cerita baru
Demi kehidupan untukMu
Kuserahkan jiwaku
Dalam genggamanMu

Rabbi..
Faghfirlii..
Jauhkan aku dari dengki
Yang mencabik hati