Friday, June 22, 2018

Perjalanan Panjang Menuju CPNC



Masih jelas di ingatan Awal Desember 2017 silam, saat mas Teddi Prasetya Yuliawan mengatakan ketika membuka Training NLP Coach Certification, kalau pelatihan ini bukan tentang sertifikat. Bahkan setelah lulus, sertifikat ini 'tidak ada harganya'. Karena sertifikat hanyalah sebuah kertas, yang terpenting adalah skill yang dimiliki, setelah melalui perjalanan panjang mengikuti kelas tatap muka selama 6 hari dan ujian 2 kali dengan nilai minimal 3 di 8 kompetensi.





Aku baru mengamini kata-kata beliau 5 bulan setelahnya. Saat menerima selembar kertas berwarna putih bermotif biru bertuliskan namaku dengan embel-embel baru, CPNC. Ada rasa haru menyeruak di dada saat mas Teddi menyerahkan sertifikat keramat ini di depan mas Syamsul Hatta, mas Andra Hanindyo dan mas Darmawan Aji, guru yang tak pernah bosan mendampingiku belajar ilmu coaching. Bahkan belasan peserta NLP Coach Batch 5 mengabadikan momen bahagia ini. Salah seorang peserta dari Jogja malah ingin berfoto meminjam sertifikatku sebagai visualisasi dan penyemangatnya. Hahaha.


Ingatanku terbang melintasi perjalanan panjang yang sudah dilalui. Bagaimana perjuanganku untuk mengikuti pelatihan ini. Kemudahan demi kemudahan Allah berikan saat aku bertekad ingin mempelajari ilmu coaching, kata yang mungkin masih terdengar asing di telinga sebagian besar orang.

Aku lupa kapan persisnya mendengar kata coaching ini untuk pertama kali. Mungkin pertengahan Juni 2015, saat mengikuti NLP Conference di Lumire Hotel, Jakarta. Saat itu aku pertama kali bertatap muka dengan bapak Kurnia Siregar. Ternyata beliau adalah mantan Vice President International Coach Federation (ICF). Meski tak mengikuti kelas beliau, siapa disangka dua tahun setelah itu aku bisa silaturahmi dengan beliau di Medan. Ya, dari nama belakangnya kalian bisa menebak dengan mudah kalau beliau berasal dari kota yang sama denganku. Acara yang Loop Asia Consulting adakan di Medan bersliweran di linimasa facebook. Pak Kurnia, begitu ia biasa disapa, memanggil alumni Loop untuk meramaikan kegiatan di Medan. Bermodalkan ilmu SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) yang kuimiliki, aku mengungkapkan keinginanku untuk silaturahmi dengan beliau, meski aku bukanlah alumni. Tak disangka, beliau dengan ramahnya memberikan waktu dan nomer WA-nya untuk mempermudah berkomunikasi. Kemudian aku menemui coach ganteng ini di Coffe Crowd Ringroad Citywalk usai ia meeting. Saat aku menunjukkan ketertarikan mempelari ilmu coaching, pria kelahiran Medan itu menawariku untuk mengintip sesi coaching di Bank Sumut dan MM USU keesokan harinya. Begitulah perkenalanku dengan coaching.








Bermodalkan ngintip sesi coaching tersebut aku semakin tertarik mempelajari apa sih sebenarnya coaching itu. Setelah mencari dan mengumpulkan informasi tentang Pelatihan Coaching, ternyata biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Aku belum punya budget untuk itu dan jujur saja saat itu merasa kalau tiba-tiba aku dapat rezeki nomplok sejumlah biaya pelatihan itu, kayaknya aku lebih milih jalan-jalan ke Eropa. Hahaha. Begitulah saat itu tekadku ternyata belum begitu kuat, kemudian aku memilih membeli buku 'Sukses Menjadi Profesional Coach', yang ditulis oleh pak Kurnia Siregar dan bu Ina Rizki. Yang mengejutkan lagi, saat bertemu dengan Kang Adang Adha, seorang Trainer dan Coach, ia memberiku buku 'Sukses dengan Coaching' yang ditulisnya bersama 26 Coaches lainnya. Begitulah cara semesta mendukungku mempelajari coaching. Perlahan-lahan dibukakannya jalan.



Pengalaman pertama menjadi coachee (orang yang dicoaching) justru saat mbak Arie Kusuma Dewi dan mbak Chita Harahap membutuhkan klien sebagai syarat kelulusan ujian coaching. Aku bahkan masih ingat tanggalnya 9 Agustus 2017. Hari Minggu, sesudah Practice Group di Cibubur. Menjadi tanggal keramat yang tak terlupakan. Awalnya merasa bingung, 'kok ditanya-tanyain terus sih'. Tapi setelah selesai sesi coaching aku mendapatkan jawaban atas permasalahan yang sudah lama mengganggu pikiranku. Bahkan aku merasa plong, lega dan mantap mengambil keputusan penting terkait masa depanku. Tak perlu kuceritakan dengan detil prosesnya, karna agak sulit melukiskannya dengan kata-kata, tetapi masih terasa hangat di dada. Tsaaaaah.



Kalau menjadi coachee yang dibantu menyelesaikan permasalahannya saja rasanya bahagia, keinginanku untuk menjadi coach semakin menggebu-gebu. Terbayang bagaimana bahagianya saat bisa membantu klien menyelesaikan masalahnya. Binaran mata coachee setelah selesai sesi coaching, seperti yang aku alami. Dan aku mengumpulkan tekad, bagaimanapun caranya aku harus mengikuti pelatihan NLP Coach Certification yang diadakan Indonesia NLP Society Awal Desember 2017. Kendala biaya tak menyurutkan keinginanku. Segala cara aku tempuh agar bisa mengikuti kelas 6 hari. Bahkan aku stay di Jakarta agar tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tiket pesawat. Alhamdulillah jalanku dipermudah. Aku dipertemukan dengan beberapa orang yang berniat menolongku. Entah dasar apa ada malaikat yang mensubsidi hampir separuh biaya pelatihan tersebut. Orangnya ga ngomong apa-apa, malah meminta panitia merahasiakan, tapi firasatku sangat kuat. Dan akhirnya aku bisa duduk di Hotel Amaris Kemang bersama 15 pembelajar lainnya yang berasal dari kota Jakarta, Bandung, dan Malang.

Jangan ditanya bagaimana stress nya aku sebelum dan saat mengikuti kelas NLP Coach. Bolak balik bertanya dan meminta saran pada peserta training batch sebelumnya. Bahkan aku mendadak jadi pendiam selama 6 hari mengikuti kelas. Hahaha. Iya, aku yang biasanya ribut mendadak 'bisu' dan diam seribu bahasa. Tak pernah bertanya, padahal ga ngerti. Tak pernah juga menjawab saat trainer bertanya. Hahaha. Begitulah proses belajar coaching mengubah diriku.



Setelah kelas 6 hari selesai apakah kami langsung mendapatkan sertifikat? Tentu tidak.
Tugas berikutnya adalah mempraktekkan ilmu yang telah kami terima. Kami diminta praktek coaching 30 sesi. Dan kemudian masalahnya satu persatu mulai muncul. Here we go.. Dimana aku mencari orang yang mau dicoaching yaa.. Kalau di Medan sih ini tidak akan menjadi masalah buatku. Saudara dan temanku berhamburan di kota klakson. Nah, kalau di Jakarta??? Aku punya beberapa teman sih di Jakarta, hanya saja mereka sangat sibuk. Gimana cara menyatukan jadwalnya. Belum lagi kantor tempat mereka bekerja berjauhan dengan rumah sepupuku, tempatku menumpang selama di Jakarta.

Lebih dari 2 minggu setelah kelas tatap muka berakhir, aku belum juga mulai praktek coaching. Semua rekan pembelajar training NLP Coach Certification Batch 4 sudah mengupdate jumlah sesi coachingnya di WA Group. Ada yang 1, 2, 5, bahkan ada yang sudah 30 sesi. Dan aku belum pecah telur sama sekali. Perhatian teman-teman dan trainer saat menanyakan mengapa aku tak kunjung latihan, justru membuatku malas membuka group. Rasanya seperti orang yang terasing. Aku memilih menghilang sejenak dari WAG. Jangankan komen di group, aku bahkan tak lagi membaca apa yang tertulis disana. Sampai-sampai mas Teddi japri. Beliau baru bilang assalamu'alaikum saja aku sudah malas membukanya karena sudah tahu alasan dan tujuannya ingin menanyakan perkembangan coachingku. WA beliau baru keesokan harinya kubalas. Hahaha. Maafkan aku mas Teddiiii. Tapi yang pernah dijapri mas Teddi pasti tahu persis gimana deg-degannya. Terlebih-lebih saat kita melakukan kesalahan atau belum melakukan tugas, seperti yang aku alami. Konon kabarnya 'Teddi is typing' bisa menimbulkan state tertentu. Hahahaha.

Akhirnya karna tak kunjung mendapat coachee di Jakarta, aku pergi berlibur ke Bandung. Sebenarnya saat di Jakarta aku sudah janjian dengan beberapa teman yang berminat dicoaching. Tapi saat hari H mereka membatalkan janji. Alasannya ada yang sakit, ada keperluan mendadak, atau didatangi mantan. Hahaha. Yang terakhir tentu saja aku ngarang. Di Bandung lah aku pertama kali melakukan sesi coaching, dengan orang yang tak dikenal pula. Berkat bantuan teh Melly, teman seperjuangan batch 4, aku mendapatkan coachee (orang yang dicoaching, red). Tidak hanya satu, melainkan empat sekaligus. Dan pengalaman praktek coaching beneran dengan klien ini justru menimbulkan perasaan yang kuat untuk terus berlatih coaching. Saat melihat klien meneteskan air mata, ada rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Haru. Bahagia. Semangat. Intinya mengazzamkan diri mempelajari dan mempraktekkan ilmu coaching ini, tidak hanya sekadar memenuhi syarat 30 sesi, tetapi meluruskan niat agar bisa membantu menyelesaikan masalah orang lain.

                                                       Sesi Coaching Pertamaku


Jatuh bangun belajar coaching ini seperti naik roller coaster. Ada rasa khawatir, takut, malas, tetapi setelah selesai melakukan coaching, ketagihan dan pengen coaching lagi. Menimbulkan rasa candu, seperti ketemu kamu. Hahaha. Alhamdulillah, pelan tapi pasti 30 sesi coaching sebagai syarat kelulusan terpenuhi. Apakah langsung serta merta menjadi certified coach? Tentu tidak. Masih ada minimal dua ujian lagi yang harus dilewati. Ujiannya tentang teori kah? Apakah soalnya pilihan ganda? Ujiannya PRAKTEK gaeees.. Jadi kita melakukan sesi coaching dan ada asessor yang mengamati dan mencatat dosa-dosa kita. Hahaha. Latihan coaching aja udah bikin deg-degan, gimana lagi kalau ada asessor kan? Yang ada grogi dan blank. Mendadak bingung mau nanya apa ke coachee. Hahaha. Sampai-sampai pernah kejadian di menit-menit terakhir, coachnya ngomong 'Abis ini nanya apa lagi yaa..'. Hahaha. Konon kabarnya ujian coaching ini lebih nyeremin daripada ketemu calon mertua. Hahaha.

Ujian pertama ga usah ditanya gimana deg-degannya. Ngalah-ngalahin Ujian Sidang Skripsi. Hahaha. Dibatasi waktu 30 menit, 8 kompetensi dinilai. Baru satu kompetensi yang berhasil kuperoleh nilai 3, yaitu Coaching Agreement. Itupun karna malam sebelumnya mentoring sampai jam 10 dengan mas Andra Hanindyo. Alhamdulillah, pencapaian sekecil apapun patut disyukuri.



Ujian kedua, yang dilakukan sebulan setelah ujian pertama, justru aku lakukan dengan tidak percaya diri. Jadi ceritanya setelah selesai ujian pertama, aku memutuskan untuk pulang ke Medan. Lumayanlah, sebulan bisa berburu coachee di Medan. Anehnya, sejak coaching di Medan aku merasa skill coaching yang kumiliki menurun drastis. Entah apa sebabnya, aku pun tak mengerti. Mungkin karena sempat berjeda panjang antara sesi coaching yang terakhir kali kulakukan dengan yang kulakukan di Medan. Rasanya seperti melakukan latihan coaching untuk pertama kali. Gugup, blank, bingung mau nanya apa. Jujur saja aku tidak berharap lulus satu kompetensi pun di ujian coaching yang kedua ini. Niatku hanya latihan dan menambah sesi coaching saja. Belajar dari feedback yang diberikan pak guru. Eh, ternyata justru di ujian kali ini aku lulus 3 kompetensi. Ya, masih kompetensi yang diawal-awal sih, Establishing dialogue, Insightful Questioning dan Coaching Agreement. Benar-benar ga disangka. Begitulah mungkin saat ga punya ekspektasi apa-apa, justru membuat kita let it flow, yang ternyata hasilnya lebih maksimal.




Ujian ketiga adalah ujian terburuk sepanjang hidupku. Pede banget merasa harus lulus, secara udah ujian 3 kali, 30 sesi sebagai syarat kelulusan juga sudah dipenuhi. Ternyata hasilnya jauh dibawah ekspektasi. Bahkan di beberapa kompetensi yang sebelumnya aku sudah lulus saja, saat ujian ini malah ga nyampe 3 score-nya. *Nangis Kejer* Parahnya goal sesi aja belum ke-grab dengan baik. Masih belum spesifik dan terukur goal sesi saat itu. Alih-alih mengharapkan lulus, kompetensi yang sudah ada malah menurun. Ujian kali ini mengajarkanku untuk tidak boleh takabbur. Ga boleh jumawa. Jangan sombong. Berharap boleh, tapi jangan ketinggian. Berharap cuma boleh sama Allah, kalo ga ntar kecewa. Kalo mau segera lulus ujian ya perbanyak latihan coaching. Kalau bisa setiap hari 1 sesi coaching minimal.



Ketika NLP Essentials modul 2 dilaksanakan, aku memberanikan diri meminta mas Syamsul Hatta yang mengisi pelatihan tersebut untuk mengujiku. Meski sesaat sebelum ujian aku hendak membatalkan ujian karena mbak Dewi, teman seangkatan yang kuharapkan menjadi coachee sudah punya janji dengan yang lain. Namun bukan mas Syamsul namanya kalau membiarkanku menunda ujian. Coachee bukan alasan, bahkan ia mengajukan diri menjadi coachee untuk bahan ujianku. Haduh, bisa-bisa belum mulai ujian aku udah blank duluan. Hahaha. Iya, knowing nothing state memang masih Pe-er banget. Beberapa kali latihan sesi coachingku gagal jika coachee-nya adalah seorang coach. Bahkan aku pernah berkata, "Nanya apa lagi yaa.." pada teh Rita yang kucoaching awal-awal dulu. Hahaha.

Alhamdulillahnya bu Betty, salah seorang peserta NLP Essentials, mengajukan diri menjadi coachee. Dan alhamdulillahnya lagi proses coaching berjalan lancar. Aku tidak pernah senyaman ini melakukan sesi coaching sebelumnya, meski di awal-awal sempat gugup juga. Tapi begitu mas Hatta yang menjadi asseseor pindah duduk ke belakang, aku jadi nyantai banget. Ga berasa ujian. Dan menjadi Pede banget karena merasa coachee juga belum pernah dicoaching ini dan aku meniatkan untuk membantu beliau mencapai target yang diinginkannya. Ternyata itu sangat membantu sekali. Aku mendapatkan nilai 3 untuk 8 kompetensi. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.



Apakah aku lulus? Belum, karena masih ada 3 kompetensi yang memperoleh nilai 3 baru sekali. Sementara syarat kelulusan adalah nilai 3 dua kali di 8 kompetensi. Jadi aku perlu ujian sekali lagi sodara-sodara. Dengan semangat 45 aku mengiyakan ajakan mas Teddi untuk ujian di hari libur. Janjian di Gramedia Matraman jam 2 siang. Aku gugup luar biasa ketika jam sudah menunjukkan lebih 15 menit dari waktu yang disepakati, mbak Dewi yang menjadi coachee ku belum sampai di TKP. Dan ga bisa dihubungi pula HPnya. Panik, gregetan, nervous, kesal dan ga enak sama mas Teddi yang sudah menunggu bercampur menjadi satu. Akhirnya ketika mbak Dewi menampakkan batang hidungnya, aku sedikit lega. Namun tak bisa menutupi kegugupanku di awal sesi coaching. Nyaman sih, bahkan tak seperti biasa, aku sama sekali tak terganggu dengan suara-suara pengunjung lain di Dunkin Donut Gramedia Matraman yang berlalu lalang.






Sayangnya aku salah menggunakan coaching tools. Harusnya bisa pake edit submodality aja udah beres, plus menggunakan hypnotic language tentunya, bukan dengan suara datar seperti yang kulakukan, hahaha. Saat itu aku sok-sokan menggunakan Perceptual Position, karena menganggap masalah yang dihadapi coachee adalah konflik dengan orang lain. Karena terlalu lama bermain-main dengan Perceptual Position, udahlah masalahnya belum kelar juga, eh waktu 30 menit mendadak habis. Saat mas Teddi mengatakan waktu habis, jujur aku pengen nangis. Karena belum sempat Designing Action. Gimana mau lulus kalau masih ada coaching competency yang belum keluar. Aku sangat berharap ini adalah ujian terakhirku. Hiks..Hiks..

Syukurnya setelah memberikan feedback dan melatih hypnotic languange-ku, mengajariku untuk memainkan jeda dan nada, mas Teddi meminta aku untuk ujian lagi, melanjutkan sesi coaching yang sebelumnya. Jujur saja disini kata lulus sudah kuhapus dari kamusku. Yang ada di kepala cuma gimana caranya aku bisa membantu coachee menyelesaikan masalahnya. Aku menggeser harapan dan ekspektasi lulus. Anehnya justru aku lulus beneran. Alhamdulillah. Mungkin kalau kita tidak terpaku dengan ujian dan lulus, kita jadi tidak punya ekspektasi apa-apa. Dan menjadi lebih smooth dan mengalir. Saat mas Teddi menyebutkan skor 3 dibeberapa kompetensi dan mengatakan aku LULUS, rasa haru menyeruak di dada. Hangat dan tak mau pergi. Apalagi ketika mas Teddi mengumumkan kelulusanku di WAG INLPS Coaching, ucapan selamat dari guru, sahabat seperjuangan dan kakak kelas membuat rasa bahagia berlipat ganda. Sampe ga bisa tidur.



Perjalanan panjang mengikuti Training NLP Coach Certification sampai memperoleh gelar CPNC (Certified Professional NLP Coach) berputar seperti film. Potongan scene saat keluar masuk ruang Amaris 2 dan toilet karena aku bolak balik batuk. Bayangan pagi hari naik sepeda sambil mengulang materi yang sebelumnya sudah dibahas, sambil berolahraga sebelum berangkat ke Kemang, gambar saat aku duduk diam saja di ruang pelatihan. Semua terpampang nyata. Sampai saat aku pertama kali menjalankan sesi coaching, airmata klien yang tak berhenti menetes, ujian demi ujian yang dilalui. Mentoring demi mentoring yang dilakukan secara tatap muka dan online. Ah, perjuangan itu emang indah. Dan buah kemanisannya baru bisa kita petik saat sudah melalui semuanya dan lulus. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam yang sudah menguatkanku untuk menjalani perjuangan panjang ini. Semoga ilmu yang diperoleh barokah dan bermanfaat bagi banyak orang. Karena ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari perjalanan. Seperti kata mas Teddi, lulus adalah keterangan siap berkarya. Jadi setelah ini yang ditunggu adalah karya-karyanya. Berapa banyak orang didampingi mengembangkan diri. Dipandu menjadi lebih baik. Diajak menjalani kehidupan yang naik level. Insya Allah.

Dikasi jempol sama 4 guru itu bahagiaaa. Terima kasih ilmunya ya pak guru
Terima kasih yang tak terhingga untuk guru yang super sabar mengajariku dari nol: Mas Teddi, mas Hatta, mas Andra dan mas Aji. Rasanya ga ada kata yang bisa mewakilin ucapan terima kasihku untuk mereka. Semoga segala kebaikan dan ilmu yang dialirkan akan dibalas Allah Swt dengan rezeki berkah melimpah, kesehatan paripurna dan dimasukkan ke Surga-Nya. Hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk guru humble rasa sahabat ini. Guru yang ga pernah mau dipanggil guru, karena menurut mereka kita sama-sama belajar. Guru yang ga pernah menggurui dan selalu tampil menjadi manusia biasa tanpa mengenal kata jaim. Terima kasih mas-mas guru teman belajar.. Jasamu takkan pernah kulupakan.

Terima kasih untuk para kakak kelas yang sudah memotivasiku untuk mengikuti kelas NLP Coach hingga berhasil lulus ujian menjadi certified coach: Mbak Arie Kusuma Dewi, mbak Chita Harahap, mbak Anda, teh Lya, teh Rita, teh Rani. Terima kasih untuk teman seperjalanan yang membuat perjuangan ini menjadi super indah dan tak terlupakan: teh Melly, mbak Dewi, mbak Sari, bu Nastiti, cici Natali, kang Dodi, kang Khairil, Kang Fikri, kang Irwan, kang Oscar, mas Adi, mas Adam, mas Sata, dan mas Ryan. Ayo lanjutkan terus latihan coaching dan ujian, kita semua harus luluuuus.. Jangan mau kalah dengan batch 3 dan batch 5.

Bagi teman-teman pembaca blog yang ingin mencicipi sesi coaching, silahkan hubungi:
0853 7006 0909 yaa..

Makasi banyak udah membaca tulisan super panjang ini. Semoga bermanfaat..


Salam,


Aini Tarigan, CPNC










No comments:

Post a Comment