Wednesday, March 27, 2019

KESEMPATAN KEDUA


Ketika jam berdetak dua belas kali, tanda hari sudah berganti, tiba-tiba terdengar suara kunci berputar. Aku bergegas mengintip ke pintu depan, khawatir ada tamu tak diundang. Ternyata Ayah. Baru sampai rumah setelah perjalanan 5 jam dari desa Tiga Lingga.

Kejadian seperti ini bukan hanya sekali dua kali terjadi. Sudah menjadi kebiasaan ayah melakukan perjalanan dakwah. Di usianya yang sudah lebih 70 tahun, fisikmya masih kuat melakukan perjalanan darat semalaman. Tak pernah memperlihatkan wajah letihnya. Bahkan tak jarang beliau belum makan, namun lebih memilih langsung tidur karena terlalu lelah.

Bukannya kami tak pernah mengingatkan ayah, tapi kalau kalian mengenal ayahku pasti sudah hafal bagaimana keras kepalanya, sebelas dua belaslah sama anaknya. Hahaha

Izinkan ayah melakukan sesuatu di penghujung usia ini.  Agar saat malaikat nanti memanggil nama ayah, wahai Ilyas Tarigan.. Apa yang sudah kamu lakukan untuk Tanah Karo? Biar ayah bisa menjawab, “aku sudah berdakwah sampai bawah kaki Gunung Sinabung dan mengajak Masyarakat Karo untuk kembali ke jalan-Mu ya Rabb”

Pandanganku mendadak kabur. Aliran sungai di pipi tidak bisa berhenti mengalir. Dadaku menghangat. Lantas aku berpikir, apa yang sudah aku lakukan di dunia ini? Kemana saja aku selama ini.
Ingatanku terbang beberapa tahun silam. 

Saat ia memanggilku di sepertiga malam. Dengan suara pelan, ayah memintaku mengambil air minum. Posisinya terbaring di sofa ruang tamu. Saat aku membawakan air minum, ia tidak bisa bangkit, bahkan untuk menegakkan kepala. Beliau memintaku mencari sedotan agar bisa minum. Panik, aku tak menemukan dimana sedotan biasanya disimpan. Lalu kuambil sendok dan kusuapi air ke mulutnya. Ia terlihat begitu menikmati setiap tetes demi tetes air yang membasahi bibirmya. Seoalh-olah ada di gurun pasir dan ini adalah persediaan air yang terakhir kali ia minum. Lalu ia meminta air zam-zam. Aku tercekat. Inikah saatnya..

Bendungan dimataku jebol. Tapi tak menyurutkan semangatku menyuapi air zam-zam ke mulut lelaki yang tak pernah berhenti berzikir. Aku pikir air mulia itu akan menjadi air yang terakhir ia minum. Lalu ia minta diambilkan gayung untuk berwudhu. Tak lupa mengingatkanku agar membawa baskom untuk menampung bekas wudhunya. Airmata mengalir semakin deras, tetapi aku tetap melaksanakan perintahnya. Rasanya ia seperti mengajarkanku bagaimana cara berwudhu yang benar. Memintaku untuk memperbaiki wudhu-ku yang selama ini hanya sekadar basah. Lalu setelah sempurna wudhunya, ia meminta aku membaca ayat kursi.
Dengan terbata-bata kubaca.

Aku pikir itu adalah hari terakhir aku melihatnya. Aku rasa ini adalah pertama dan terakhir kali aku mengambilkan wudhu untuknya. Aku ingin menikmati hari-hari terakhirnya, hanya berdua denganku. Aku bahkan tak ingin membangunkan bunda dan abang, karena mereka baru tidur enam puluh menit yang lalu. 

Setelah 4 tahun berlalu, ternyata aku masih bisa memegang tangannya. Meski aku tidak pernah bermanja-manja lagi di pangkuannya, seperti saat aku kecil dulu. Ya, mungkin sekarang saatnya aku yang memanjakannya. Namun setiap kali aku ingin bersandar di bahunya, menghindar. Ah, ayah..




#PenggalanCeritaAyah
#Biografi Sang Pejuang

Monday, March 25, 2019

PERGILAH



Kalau kau ingin pergi..
Pergilah dengan penuh pertimbangan
Bukan karena kebosanan apalagi kesalahan

Kalau kau ingin pergi..
Pergilah dengan kebaikan
Bukan dengan menahan kejengkelan
Apalagi meninggalkan kerinduan

Karena sejatinya hidup ini adalah perjalanan
Proses pertumbuhan..
Rangkaian pembelajaran

Pergilah..
Lanjutkan perjalananmu..

Sunday, March 24, 2019

MENGEJA RINDU




 Mengapa harus malu
Ketika ingin mengatakan rindu
Biarlah doa yang mengadu
Bagaimana berartinya sebuah ilmu


Dear kamu..
Yang pernah mengajariku
Mungkin kalian nanti akan lupa suatu waktu
Bahwa aku pernah berguru dan menjadi muridmu

Tak hanya kelebihan
Akhirnya kusadari kau pun punya kekurangan
Sehingga membuatku tak lagi penasaran
Kau manusia sejati, tak sekadar bayangan

Dalam proses interaksi, pastilah ada kecapi
Yang bergesekan tepi, membuat tak lagi harmoni
Jangan disimpan dalam hati
Dan membuat belenggu diri

Namun seperti ilmu yang diajarkan
Disitulah nikmatnya perjalanan
Ada pembelajaran..
Suatu hari nanti jadi kenangan tak terlupakan

Dalam setiap langkah
Selalu ada tingkah
Terkadang tak berpolah
Membakar amarah

Aku hanya ingin
Kita tak pernah berhenti saling memaafkan
Melakukan perbaikan dan terus bergandengan
Demi sebuah persaudaraan dan perjuangan
 
Terima kasih tak pernah lelah menemaniku bertumbuh
Bersabar dalam setiap proses mengayuh
Meski letih namun tersenyum di setiap peluh
Memeluk setiap kali aku jatuh

#YourGrowingPartner



Friday, March 22, 2019

KINI KU DI PERSIMPANGAN



Perlu memberikan makna baru
Saat perjalanan sudah tak lagi lucu
Jenuh, bosan dan penat jangan kau simpan jadi satu
Teteskan ragu agar jadi rindu

Perenungan..
Mungkin perlu kau lakukan
Agar tak berhenti kelamaan
Di persimpangan jalan

Semua butuh jawaban..
Dan kepastian..

Paksa kakimu agar bisa mengayuh
Jangan pernah mengeluh
Walau berbanjir peluh
Duh.. Jangan biarkan jiwa ini rapuh

Mantapkan diri
Ini bukan lagi soal hati
Biarlah menjadi rahasia Illahi
Mengapa ia datang dan pergi

ADA APA DENGAN OKTOBER 2019?



Beberapa bulan terakhir ini bahasan tentang menulis buku bersliweran dalam hidupku. Teman yang baru menerbitkan buku pertamanya berkata, "Aini pasti bisa lah. Kalau Aini baca buku kakak, isinya biasa aja. Masih lebih bagus tulisan Aini kemana-mana". Aku tersenyum. Bagiku itu hanya bukan sekadar pujian basa-basi mengatakan tulisanku bagus. Lebih tinggi dari itu, ada support yang sangat berharga di dalamnya. Keesokan harinya, ia mampir ke rumahku saat menjemput anaknya pulang sekolah. Ia memberikan bukunya yang berjudul "Perempuan Biasa'. 

Saat mengantarkan keponakanku tes psikologi di salah satu Biro Konsultasi, obrolan tentang buku hadir lagi. Tiba-tiba psikolog membuka obrolan saat kami sedang mengobrol, menunggu petugas yang akan mengetes keponakan saya. Kebetulan waktu itu kami datang kecepatan 30 menit dari waktu yang telah ditentukan, jadi bisa ngobrol panjang dengan psikolog senior kota Medan ini.

"Aini ga mau nulis buku?" Katanya sambil tersenyum manis menatapku. Deeeg. Jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Gimana ibu ini bisa tahu ya kalau aku baru saja mengikuti Training Writing Camp weekend lalu, batinku. Padahal aku tidak ada posting foto atau tulis status berkaitan dengan kegiatan yang diadakan oleh MediaGuru ini. Ibu ini psikolog apa dukun? Hahaha..

"Saya suka membaca tulisan Aini di facebook. Bagus.", lanjut beliau. "Saya masih bingung bu mau bikin buku apa. Tulisan saya kayak gado-gado", jawabku sok cool, padahal jantung joget-joget karena dipuji psikolog ngetop ini. "Aini, coba baca buku Bunga Rampai yang ditulis Pipiet Senja. Itu sederhana sekali. Isinya campur-campur. Tentang perjalanan hidup beliau. Saya yakin Aini bisa menulis buku". 

Beberapa waktu kemudian, teman-teman di komunitas tiba-tiba ngajak siapa yang mau ikutan project menulis buku. Setiap minggu wajib menyetor tulisan pada admin, yang tidak mengerjakan tugas akan diremove dari group. Dengan semangat '45 mendaftarlah aku. Lalu kemudian di kick admin karena aku ga mengirimkan tulisan pada deadline yang telah ditentukan. Padahal aku sudah punya tulisan, tapi saat itu jaringan internet di rumah tidak bersahabat tapi aku tidak mengabari sang admin. Hahaha.

Saat pasang status tentang menulis, salah seorang teman WA. Kira-kira begini isinya. Kalau buku Aini udah terbit, aku orang pertama yang akan beli. Gimana semangat menulisku ga meningkat 100%. Karena orang itu adalah .......... Tiiiiit...Kemudian sinyal hilang. Hahaha.

Ya Allah, apakah ini memang pertanda darimu kalau hamba perlu menulis buku? 
Apakah ini adalah waktunya?
Tak ada istilah kebetulan, karena segala sesuatu sudah ditakdirkan Allah.
Bahkan daun pun tak bisa jatuh tanpa izin Allah.

Lalu apa yang perlu aku lakukan untuk mewujudkan buku impian ini?
Bikin outcome yang terukur donk! Kan udah belajar di NLP Essentials 1.

Buat target kapan buku mau di launching. 
Siapa saja yang hadir saat launching buku tersebut?
Apa yang dilihat, didengar dan dirasakan saat launching buku tersebut?

Aaaaah... 
Kok jadi semangat menulis yaa..
Doakan ya teman-teman, 26 Oktober 2019 buku saya yang bersampul tosca akan launching.
Apa judul bukunya?
Rahasiaaaa....

Wednesday, March 20, 2019

MENULIS ITU MUDAH



A Professional Writer is an Amateur 
Who Didn't Quit
-Richard Bach-

Aku suka terkagum-kagum dengan mereka yang bisa menulis. Senang rasanya membaca tulisan mereka yang renyah. Layaknya sedang ngobrol aja. Lalu aku bertanya pada salah satu penulis favoritku, apa sih tips beliau. Lalu ia berkata, "Kuncinya cuma 3, Ai". Aku mendengarkan dengan seksama. "Kunci pertama : Menulis, kedua menulis, lalu ketiga menulis". Lalu kami berdua tertawa. Aku pikir ia bercanda, ternyata serius. "Ya memang cuma itu kuncinya". Semua orang sebenarnya bisa menulis, toh pelajaran menulis kan sudah kita dapatkan di Sekolah Dasar dulu, katanya sambil tersenyum.

Menulis itu pekerjaan tangan, lanjut beliau. Ya sama aja kayak makan. Semua orang bisa makan toh? Apa bisa nasi tiba-tiba masuk sendiri ke mulut kita kalau tidak kita sendokkan? Begitu juga dengan menulis. Ga akan bisa tiba-tiba lahir sebuah tulisan masterpiece, kalau kita tidak menggerakkan tangan untuk menekan tuts keyboard atau menggoyangkan pena di atas kertas.

Menulis itu tentang kebiasaan. Kalau kita rutin menulis, jari seolah-olah menari sendiri di atas keyboard. Dan diksi kita jadi lebih renyah. Enak untuk dikunyah. Percayalah.

Yang penting ada KEMAUAN. Ga ada istilah ga ada waktu. Semua orang diberi waktu yang sama. 24 jam sehari. Emang kamu kira Penulis Bestseller itu pengangguran apa? Mereka juga sibuk, tapi mau meluangkan waktunya. Catat ya, meluangkan waktu, bukan menunggu waktu luang.

Satu lagi kuncinya, KONSISTEN!
Menulislah tiap hari. Meskipun hanya setengah halaman. Yang penting tetap menulis. RUTIN.
Kalo bisa menulislah di jam yang sama, tempat yang sama. Agar terbentuk ANCHOR.
Apa itu anchor? nanti kita bahas di artikel berikutnya.

Saat menulis, bayangkanlah sedang mengobrol dengan orang lain. Lalu tuliskan.

Gampang kan?
Selamat menulis..

Tuesday, March 19, 2019

BELAJAR NLP


Once You Stop Learning
You Start Dying
-Albert Einstein-

Terkait belajar NLP, Aku pernah berada di titik nadir terbawah. Udah ikutan NLP Essentials modul 1 dan 2, ikutan NLP Coach Certification, ikutan Practice Group, tapi kok pengetahuanku tentang NLP gini-gini aja. Alih-alih membaca buku NLP, aku malah menarik diri dari dunia NLP. Merasa ga pantas berada di komunitas yang excellence itu. Membandingkan diri dengan yang lain. Merasa rendah diri saat yang lain diskusi di group.

"Aku dulu ga ngerti tentang Presuposisi NLP loh Ai. Udah baca beberapa buku tentang presuposisi NLP, udah ikutan Training khusus yang membahas Presuposisi NLP, tetep aja ga ngerti. Tapi aku ga berhenti belajar. Aku gali terus sampai akhirnya sekarang aku ngerti". Gitu kata mas Teddi saat kami sedang ngopi di Goedkoop, cafe di bilangan Bendungan Hilir.

Aku tertampar dengan kata-katanya. Buset, beliau aja yang udah menuliskan buku NLP: The Art of Enjoying Life, ga pernah berhenti belajar NLP. Lalu apa yang sudah kamu lakukan Aini? Akankah pengetahuan itu akan tiba-tiba datang begitu saja kalau kamu ga pernah membaca buku NLP? Emangnya siapa kamu? Nabi yang tiba-tiba dapat wahyu? Makanya kalau abis ikutan training itu, modulnya jangan disimpan aja. Baca lagi. Kalo ga ngerti tanya. Kalo udah ngerti belajar menuliskan.

Kata-kata beliau aku jadikan cambuk untuk terus belajar. Setiap hari berupaya membaca buku NLP, entah itu buku Taoel, buku Perjalanan Membingkai Makna atau Modul NLP Essentials, minimal selembar. Menonton facebook live saat PG, dua minggu sekali. Menonton video NLP yang bertebaran di youtube. Dan yang paling penting, mempraktikkan yang sudah dipelajari.

 Kalau kita mau belajar, ada 1000 cara. Kalau kita tidak mau, ada 1000 alasan.

Monday, March 18, 2019

TENTANG MEMBACA



 Ada kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku. 
Salah satunya adalah TIDAK MEMBACANYA. 
-Ray Bradbury-

Beberapa tahun belakangan ini minat membacaku turun. Eh, bukan minat bacanya sih yang turun, tapi daya tahan membaca. Masih suka baca buku, tapi jarang sampai selesai. Atau kalaupun selesai lamaaaa bangeeet. Awalnya sih ngerasa biasa aja, ga ada kepentingan atau tuntutan harus rajin baca. Ga kayak kuliah dulu.

Suatu kali salah seorang guruku posting begini di facebook. "Siapa bilang ga ada waktu membaca? Nunggu nasi goreng aja 15 menit", begitu caption yang ditulisnya berikut foto buku di meja warung kaki lima, tempat ia membeli nasi goreng. Waktu itu aku dan beberapa teman mengomentarinya. Kebanyakan ketawa dan malah "membully" beliau. Termasuk aku tentu saja. Setdaaah.. Nunggu nasi goreng aja bawa buku. Begitulah kelakuan kami, murid yang kadang kurang sopan terhadap gurunya. Maaf ya mas guru..

Setelah beberapa waktu kemudian, aku merenung. Ya kalau ga memanfaatkan waktu disela-sela menunggu begitu, kapan akan bisa membaca. Apalagi beliau punya kegiatan seabreg. Pantas lah beliau masih bisa membaca banyak buku. Disempatkan. Luangkan waktu. Paksa diri. Begitu katanya berulang kali, saat kami sedang ngobrol santai.

Pelan-pelan aku belajar memodeling (baca: meniru, red) beliau. Selalu menyelipkan buku di tas yang aku bawa. Memang sih tak jarang buku jadi lebih gampang lecek karena dibawa kemana-mana. Daripada rapi tapi masih terbungkus belum dibaca di rak buku? Hayoo.. pilih yang mana. Lagian untuk menyiasatinya bisa kok. Buku disampul plastik!

Diawal-awal memang berat. Bawa-bawa buku kemana aja. Belum lagi seringnya ga dibaca, dengan dalih ga ada waktu. Tapi kemudian terasa menyenangkan. Pertama kali aku merasa senang bawa buku adalah saat di Jakarta kemarin. Begitu sampai di Stasiun Manggarai, ketika aku turun dari commuter line, hujan turun dengan derasnya. Ga ada pilihan lain, selain menunggu dan membaca buku. Karena saat itu HP-ku sedang lowbet. Sejak dari itu hampir selalu dipastikan buku terselip rapi di ransel yang kubawa.

Ingatanku terbang melintas beberapa tahun lalu. Saat itu pesawat Air Asia yang harusnya membawaku ke Jogja pukul 7 pagi, delay 9 jam. Benar kok, aku bukan salah ketik, memang 9 jam. Dan saat itu aku ga bawa buku. Sudah tiba di bandara sejak jam 5 subuh. Bener-bener bingung ga tau mau ngapain. 9 jam bo'. Udah tidur, bangun, main HP sampe lowbat, keliling-keliling bandara, tidur lagi, belum ada juga pengumuman kalo pesawat akan berangkat. Coba kalo waktu itu aku bawa buku, pasti lain ceritanya. 

Salah satu gangguan saat membaca buku adalah HP. Setidaknya begitulah pengalamanku. Saat lagi asyik-asyiknya membaca buku, HP berdering. Atau ada notifikasi WA masuk. Buku diletakkan, pegang HP. Selesai baca WA apa lanjut baca buku? Tidak semudah itu Fergusso. Lanjut scroll IG story, feed IG, ada WA lagi yang masuk, balas, lalu buka facebook, begitu aja terus. Lalu aku dapat tips dari mas Darmawan Aji. Di bukunya yang berjudul Productivity Hack, mas Aji menyarankan membatasi membuka HP hanya tiga kali sehari. Karena aku belum sanggup mengikuti jejak beliau, akhirnya aku menyalakan flight mode saat sedang membaca buku. Jadi tangan ga pernah gatal lagi buka HP saat buku ada di samping. Dan ternyata hasilnya dahsyat loh. Pernah aku baca lebih 100 halaman sekali duduk. Waktunya setara dengan scrooling social media. *sigh*

Apakah kita harus malu menenteng buku saat antrian di bank? Hey, kenapa harus maluuu.. Lumayan loh bisa dapat 3-5 lembar. Bahkan aku pernah baca buku sambil berdiri saat mengantri boarding ke Kualanamu dari Penang International Airport. Lumayan loh dapat 10 halaman. Dan yang lebih penting lagi, nunggunya ga pake ngeluh. Tau-tau udah giliran kita aja naik pesawat. Bye-bye Bete!


The whole world opened to me, when i learned to read
-Mary Mcleod Bethune-






Sunday, March 17, 2019

MINDER





Bergaul dengan kumpulan manusia unggul, ternyata tak selamanya 'baik'.
Terkadang membuat kita fokus pada kelebihan yang mereka miliki,
kemudian membandingkan dengan diri sendiri.
Lalu merasa rendah diri, minder, kemudian pelan-pelan menarik diri.
Terus fokus pada kelemahan.


Ternyata itu bikin ga sehat.
Mengkerdilkan diri.
Tidak menghargai diri sendiri.

Kalau kita saja enggan menghargai diri kita,
Lantas siapa yang akan sudi melakukannya?

Lalu kemudian diingatkan.
Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan.
Fokus pada kelebihan saja ternyata tidak cukup.
Kita perlu melakukan perjalanan ke dalam diri, lalu instrospeksi.
Atas kesalahan dan kekurangan ini apa yang ingin dilakukan kedepannya?
Acceptance, lalu maafkan.
Peluk diri dan ucapkan terima kasih atas upaya yang telah dilakukan.

Ingat, setiap manusia dilahirkan atas peran yang berbeda.
Sudahkah kau temukan peranmu?
Sudah maksimalkah peran itu kau jalankan?

Siapa guru dan rekan belajar yang bisa membantu memaksimalkan peran tersebut?
Sudahkah kau berterima kasih pada mereka?
Atau justru membuat mereka kecewa?



#CatatanPembelajar
#CelotehAini

Friday, March 15, 2019

APRESIASI DIRI



Aku adalah tipe orang yang kalau bikin caption facebook dan instagram jarang dengan tulisan pendek. Karena bagiku sosial media adalah sarana melatih ketrampilan menulis. Tak peduli orang mau membacanya sampai akhir atau tidak. Bagiku menulis bukanlah demi orang lain. Aku lebih suka menulis untuk diri sendiri. Lebih jujur dan tanpa pretensi apa-apa. Pernah aku menulis demi mengharapkan pujian orang lain, hasilnya sangat berbeda. Semacam jaga image, gitu. Takut orang lain tahu kebodohanku. Hahaha.

Beberapa kali memposting tulisan ke facebook, tak sedikit teman yang memuji. Cieee.. Kata mereka tulisanku enak dibaca, mengalir. Emangnya air. Hahaha. Dulu kupikir mereka hanya basa-basi. Lip service. Komen di postinganku agar masuk di timeline-ku. Hahaha.Aku balas dengan basa basi juga. Karena bagiku tulisanku yaa biasa saja.

Sampai satu kali aku kehilangan kemampuan menulis. Bener-bener ga bisa nulis caption yang bercerita kayak biasa. Kok bisa aneh gitu yaa. Padahal menulis itu kan 'hanya' menggerakkan pulpen atau menekan tuts keyboard kalo zaman now. Sampai-sampai nulis caption instagram cuma bisa 'Selamat Pagi. Hahaha. *Ketawa Miris* 

Akhirnya lama ga pernah posting foto di IG. Karena foto tanpa caption itu ibarat lauk tanpa garam. Tsaaah.. Iseng-iseng aku membaca ulang beberapa tulisan yang pernah ku-upload di sosial media. Lalu terpukau sendiri. Benarkah aku yang menuliskan ini? Keren ya ternyata tulisanku (dulu). Hahaha. Norak : Mode on.

Aku menyadari ada yang ga beres nih sama diriku. Penghujung tahun 2018 yang lalu akhirnya memberanikan diri coaching masalah ini. Hah, masalah sepele gitu aja sampe janjian sama Professional Coach? Mungkin begitu yang ada di benakmu. Hey, menulis caption itu penting ya sodara-sodara. Gimana orang mau ngelike postinganku kalo caption-nya ge menarik. Uppss.. Bukan itu aja sih. Aku merasa separuh jiwaku terbang saat kemampuan menulisku hilang. Membuat kepala berat. (Kalo badan yang berat sih udah lama, hahaha). Ga enak. Rasanya kayak ditinggal pas lagi sayang-sayangnya gitu. Menulis adalah terapi jiwa, begitu artikel yang pernah kubaca.

"Apa mbak Aini pernah mengapresiasi diri terkait kemampuan menulis ini?", begitu tanya Coach yang duduk di sampingku. Jleb. Aku terdiam cukup lama. Lalu menggeleng perlahan. "Lalu apa yang ingin mbak Aini katakan pada diri mbak Aini?", Coach itu lanjut bertanya. Pandanganku memudar, tak dapat lagi melihat dengan jelas warna kerudung coach yang tersenyum menatapku. Perlahan aku menjawab sambil mengusap aliran sungai yang mengalir deras di pipi, "Aku pengen minta maaf sama diriku sendiri. Tak pernah mengapresiasi hal positif yang pernah dilakukannya". Lalu ia memberiku ruang dan waktu untuk berkomunikasi dengan diriku sendiri. 

Jangan lagi bilang hal 'sesepele' itu perlu dicoaching yaa. Dengan pertanyaan singkat nan sakti seorang coach, aku jadi menemukan permasalahan sebenarnya dan sepaket dengan solusinya. Terima kasih mbak coach kesayangan. You know who you are :) 

Apa setelah meminta maaf dan mengapresiasi diri , kemampuan menulisku langsung muncul? Tidak semudah itu, Fergusso. Membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk bisa menulis caption panjang lagi. Butuh waktu dan kemauan keras untuk berlatih dan membiasakan diri. Ya, minimal sekarang kalau nulis caption ga sekadar copas quote lagi. Hahaha.

Setelah proses coaching tersebut, aku berusaha rutin memberikan apresiasi pada diriku sendiri. Mengucapkan terima kasih atas hal-hal kecil yang dilakukannya. Meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah kulakukan pada dirinya. Mentraktir diri sendiri makanan enak untuk merayakan pencapaian kecil yang telah dilakukannya. Menghadiahi sepatu, tiket dan tumpukan buku baru saat mencapai target. Ya, sesimpel itu kok membahagiakan diri sendiri. Kalau kita kerap memuji orang lain, kenapa dengan diri sendiri pelit melakukannya? Kalau kamu suka memberikan hadiah pada orang lain, kenapa tidak melakukannya untuk diri sendiri. Kalau kita saja tidak menghargai diri sendiri, bagaimana mungkin orang akan menghargai kita?

Sekarang kalau ada yang bilang tulisanku bagus, aku percaya, karena memang begitulah kenyataannya. Hahaha. Minta dijitak nih. Bagi yang ingin memuji, jangan malu-malu yaa. Karena sekarang aku akan membalas dengan tulus pujian itu, namun bukan pula menjadi orang yang sombong dan berbangga diri. Terima kasih ya sudah membaca tulisan ini. Ngomong-ngomong, kamu sudah mengapresiasi diri sendiri hari ini?