Friday, March 15, 2019

APRESIASI DIRI



Aku adalah tipe orang yang kalau bikin caption facebook dan instagram jarang dengan tulisan pendek. Karena bagiku sosial media adalah sarana melatih ketrampilan menulis. Tak peduli orang mau membacanya sampai akhir atau tidak. Bagiku menulis bukanlah demi orang lain. Aku lebih suka menulis untuk diri sendiri. Lebih jujur dan tanpa pretensi apa-apa. Pernah aku menulis demi mengharapkan pujian orang lain, hasilnya sangat berbeda. Semacam jaga image, gitu. Takut orang lain tahu kebodohanku. Hahaha.

Beberapa kali memposting tulisan ke facebook, tak sedikit teman yang memuji. Cieee.. Kata mereka tulisanku enak dibaca, mengalir. Emangnya air. Hahaha. Dulu kupikir mereka hanya basa-basi. Lip service. Komen di postinganku agar masuk di timeline-ku. Hahaha.Aku balas dengan basa basi juga. Karena bagiku tulisanku yaa biasa saja.

Sampai satu kali aku kehilangan kemampuan menulis. Bener-bener ga bisa nulis caption yang bercerita kayak biasa. Kok bisa aneh gitu yaa. Padahal menulis itu kan 'hanya' menggerakkan pulpen atau menekan tuts keyboard kalo zaman now. Sampai-sampai nulis caption instagram cuma bisa 'Selamat Pagi. Hahaha. *Ketawa Miris* 

Akhirnya lama ga pernah posting foto di IG. Karena foto tanpa caption itu ibarat lauk tanpa garam. Tsaaah.. Iseng-iseng aku membaca ulang beberapa tulisan yang pernah ku-upload di sosial media. Lalu terpukau sendiri. Benarkah aku yang menuliskan ini? Keren ya ternyata tulisanku (dulu). Hahaha. Norak : Mode on.

Aku menyadari ada yang ga beres nih sama diriku. Penghujung tahun 2018 yang lalu akhirnya memberanikan diri coaching masalah ini. Hah, masalah sepele gitu aja sampe janjian sama Professional Coach? Mungkin begitu yang ada di benakmu. Hey, menulis caption itu penting ya sodara-sodara. Gimana orang mau ngelike postinganku kalo caption-nya ge menarik. Uppss.. Bukan itu aja sih. Aku merasa separuh jiwaku terbang saat kemampuan menulisku hilang. Membuat kepala berat. (Kalo badan yang berat sih udah lama, hahaha). Ga enak. Rasanya kayak ditinggal pas lagi sayang-sayangnya gitu. Menulis adalah terapi jiwa, begitu artikel yang pernah kubaca.

"Apa mbak Aini pernah mengapresiasi diri terkait kemampuan menulis ini?", begitu tanya Coach yang duduk di sampingku. Jleb. Aku terdiam cukup lama. Lalu menggeleng perlahan. "Lalu apa yang ingin mbak Aini katakan pada diri mbak Aini?", Coach itu lanjut bertanya. Pandanganku memudar, tak dapat lagi melihat dengan jelas warna kerudung coach yang tersenyum menatapku. Perlahan aku menjawab sambil mengusap aliran sungai yang mengalir deras di pipi, "Aku pengen minta maaf sama diriku sendiri. Tak pernah mengapresiasi hal positif yang pernah dilakukannya". Lalu ia memberiku ruang dan waktu untuk berkomunikasi dengan diriku sendiri. 

Jangan lagi bilang hal 'sesepele' itu perlu dicoaching yaa. Dengan pertanyaan singkat nan sakti seorang coach, aku jadi menemukan permasalahan sebenarnya dan sepaket dengan solusinya. Terima kasih mbak coach kesayangan. You know who you are :) 

Apa setelah meminta maaf dan mengapresiasi diri , kemampuan menulisku langsung muncul? Tidak semudah itu, Fergusso. Membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk bisa menulis caption panjang lagi. Butuh waktu dan kemauan keras untuk berlatih dan membiasakan diri. Ya, minimal sekarang kalau nulis caption ga sekadar copas quote lagi. Hahaha.

Setelah proses coaching tersebut, aku berusaha rutin memberikan apresiasi pada diriku sendiri. Mengucapkan terima kasih atas hal-hal kecil yang dilakukannya. Meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah kulakukan pada dirinya. Mentraktir diri sendiri makanan enak untuk merayakan pencapaian kecil yang telah dilakukannya. Menghadiahi sepatu, tiket dan tumpukan buku baru saat mencapai target. Ya, sesimpel itu kok membahagiakan diri sendiri. Kalau kita kerap memuji orang lain, kenapa dengan diri sendiri pelit melakukannya? Kalau kamu suka memberikan hadiah pada orang lain, kenapa tidak melakukannya untuk diri sendiri. Kalau kita saja tidak menghargai diri sendiri, bagaimana mungkin orang akan menghargai kita?

Sekarang kalau ada yang bilang tulisanku bagus, aku percaya, karena memang begitulah kenyataannya. Hahaha. Minta dijitak nih. Bagi yang ingin memuji, jangan malu-malu yaa. Karena sekarang aku akan membalas dengan tulus pujian itu, namun bukan pula menjadi orang yang sombong dan berbangga diri. Terima kasih ya sudah membaca tulisan ini. Ngomong-ngomong, kamu sudah mengapresiasi diri sendiri hari ini?



 

2 comments:

  1. Nun baru dapet materi itu pekan lalu di kelas mas aji..buat daftar reward buat setiap pencapaian, sekecil apapun itu.

    Lagi sayang2nya sama diri sendiri..masih belajar, tapi udah tau sekarang. Manusia yang paling berhak dapet perhatian dan sayangnya kita itu ya, diri kita sendiri :)

    Terimakasih buat inspirasinya, kak..teruslah bercerita *peluk jauh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah.. Kereeen Nuuun.. Tulis donk pembelajaran yang didapat dari kelasnya mas Aji.. PEngen ikutan belajar juga..

      Terima kasih untuk supportnya ya Nun.. JAdi semangat nulis lagi akuh.. Nun juga ya sayang.. *PelukErat*

      Delete