Wednesday, March 27, 2019

KESEMPATAN KEDUA


Ketika jam berdetak dua belas kali, tanda hari sudah berganti, tiba-tiba terdengar suara kunci berputar. Aku bergegas mengintip ke pintu depan, khawatir ada tamu tak diundang. Ternyata Ayah. Baru sampai rumah setelah perjalanan 5 jam dari desa Tiga Lingga.

Kejadian seperti ini bukan hanya sekali dua kali terjadi. Sudah menjadi kebiasaan ayah melakukan perjalanan dakwah. Di usianya yang sudah lebih 70 tahun, fisikmya masih kuat melakukan perjalanan darat semalaman. Tak pernah memperlihatkan wajah letihnya. Bahkan tak jarang beliau belum makan, namun lebih memilih langsung tidur karena terlalu lelah.

Bukannya kami tak pernah mengingatkan ayah, tapi kalau kalian mengenal ayahku pasti sudah hafal bagaimana keras kepalanya, sebelas dua belaslah sama anaknya. Hahaha

Izinkan ayah melakukan sesuatu di penghujung usia ini.  Agar saat malaikat nanti memanggil nama ayah, wahai Ilyas Tarigan.. Apa yang sudah kamu lakukan untuk Tanah Karo? Biar ayah bisa menjawab, “aku sudah berdakwah sampai bawah kaki Gunung Sinabung dan mengajak Masyarakat Karo untuk kembali ke jalan-Mu ya Rabb”

Pandanganku mendadak kabur. Aliran sungai di pipi tidak bisa berhenti mengalir. Dadaku menghangat. Lantas aku berpikir, apa yang sudah aku lakukan di dunia ini? Kemana saja aku selama ini.
Ingatanku terbang beberapa tahun silam. 

Saat ia memanggilku di sepertiga malam. Dengan suara pelan, ayah memintaku mengambil air minum. Posisinya terbaring di sofa ruang tamu. Saat aku membawakan air minum, ia tidak bisa bangkit, bahkan untuk menegakkan kepala. Beliau memintaku mencari sedotan agar bisa minum. Panik, aku tak menemukan dimana sedotan biasanya disimpan. Lalu kuambil sendok dan kusuapi air ke mulutnya. Ia terlihat begitu menikmati setiap tetes demi tetes air yang membasahi bibirmya. Seoalh-olah ada di gurun pasir dan ini adalah persediaan air yang terakhir kali ia minum. Lalu ia meminta air zam-zam. Aku tercekat. Inikah saatnya..

Bendungan dimataku jebol. Tapi tak menyurutkan semangatku menyuapi air zam-zam ke mulut lelaki yang tak pernah berhenti berzikir. Aku pikir air mulia itu akan menjadi air yang terakhir ia minum. Lalu ia minta diambilkan gayung untuk berwudhu. Tak lupa mengingatkanku agar membawa baskom untuk menampung bekas wudhunya. Airmata mengalir semakin deras, tetapi aku tetap melaksanakan perintahnya. Rasanya ia seperti mengajarkanku bagaimana cara berwudhu yang benar. Memintaku untuk memperbaiki wudhu-ku yang selama ini hanya sekadar basah. Lalu setelah sempurna wudhunya, ia meminta aku membaca ayat kursi.
Dengan terbata-bata kubaca.

Aku pikir itu adalah hari terakhir aku melihatnya. Aku rasa ini adalah pertama dan terakhir kali aku mengambilkan wudhu untuknya. Aku ingin menikmati hari-hari terakhirnya, hanya berdua denganku. Aku bahkan tak ingin membangunkan bunda dan abang, karena mereka baru tidur enam puluh menit yang lalu. 

Setelah 4 tahun berlalu, ternyata aku masih bisa memegang tangannya. Meski aku tidak pernah bermanja-manja lagi di pangkuannya, seperti saat aku kecil dulu. Ya, mungkin sekarang saatnya aku yang memanjakannya. Namun setiap kali aku ingin bersandar di bahunya, menghindar. Ah, ayah..




#PenggalanCeritaAyah
#Biografi Sang Pejuang

No comments:

Post a Comment