Monday, March 18, 2019

TENTANG MEMBACA



 Ada kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku. 
Salah satunya adalah TIDAK MEMBACANYA. 
-Ray Bradbury-

Beberapa tahun belakangan ini minat membacaku turun. Eh, bukan minat bacanya sih yang turun, tapi daya tahan membaca. Masih suka baca buku, tapi jarang sampai selesai. Atau kalaupun selesai lamaaaa bangeeet. Awalnya sih ngerasa biasa aja, ga ada kepentingan atau tuntutan harus rajin baca. Ga kayak kuliah dulu.

Suatu kali salah seorang guruku posting begini di facebook. "Siapa bilang ga ada waktu membaca? Nunggu nasi goreng aja 15 menit", begitu caption yang ditulisnya berikut foto buku di meja warung kaki lima, tempat ia membeli nasi goreng. Waktu itu aku dan beberapa teman mengomentarinya. Kebanyakan ketawa dan malah "membully" beliau. Termasuk aku tentu saja. Setdaaah.. Nunggu nasi goreng aja bawa buku. Begitulah kelakuan kami, murid yang kadang kurang sopan terhadap gurunya. Maaf ya mas guru..

Setelah beberapa waktu kemudian, aku merenung. Ya kalau ga memanfaatkan waktu disela-sela menunggu begitu, kapan akan bisa membaca. Apalagi beliau punya kegiatan seabreg. Pantas lah beliau masih bisa membaca banyak buku. Disempatkan. Luangkan waktu. Paksa diri. Begitu katanya berulang kali, saat kami sedang ngobrol santai.

Pelan-pelan aku belajar memodeling (baca: meniru, red) beliau. Selalu menyelipkan buku di tas yang aku bawa. Memang sih tak jarang buku jadi lebih gampang lecek karena dibawa kemana-mana. Daripada rapi tapi masih terbungkus belum dibaca di rak buku? Hayoo.. pilih yang mana. Lagian untuk menyiasatinya bisa kok. Buku disampul plastik!

Diawal-awal memang berat. Bawa-bawa buku kemana aja. Belum lagi seringnya ga dibaca, dengan dalih ga ada waktu. Tapi kemudian terasa menyenangkan. Pertama kali aku merasa senang bawa buku adalah saat di Jakarta kemarin. Begitu sampai di Stasiun Manggarai, ketika aku turun dari commuter line, hujan turun dengan derasnya. Ga ada pilihan lain, selain menunggu dan membaca buku. Karena saat itu HP-ku sedang lowbet. Sejak dari itu hampir selalu dipastikan buku terselip rapi di ransel yang kubawa.

Ingatanku terbang melintas beberapa tahun lalu. Saat itu pesawat Air Asia yang harusnya membawaku ke Jogja pukul 7 pagi, delay 9 jam. Benar kok, aku bukan salah ketik, memang 9 jam. Dan saat itu aku ga bawa buku. Sudah tiba di bandara sejak jam 5 subuh. Bener-bener bingung ga tau mau ngapain. 9 jam bo'. Udah tidur, bangun, main HP sampe lowbat, keliling-keliling bandara, tidur lagi, belum ada juga pengumuman kalo pesawat akan berangkat. Coba kalo waktu itu aku bawa buku, pasti lain ceritanya. 

Salah satu gangguan saat membaca buku adalah HP. Setidaknya begitulah pengalamanku. Saat lagi asyik-asyiknya membaca buku, HP berdering. Atau ada notifikasi WA masuk. Buku diletakkan, pegang HP. Selesai baca WA apa lanjut baca buku? Tidak semudah itu Fergusso. Lanjut scroll IG story, feed IG, ada WA lagi yang masuk, balas, lalu buka facebook, begitu aja terus. Lalu aku dapat tips dari mas Darmawan Aji. Di bukunya yang berjudul Productivity Hack, mas Aji menyarankan membatasi membuka HP hanya tiga kali sehari. Karena aku belum sanggup mengikuti jejak beliau, akhirnya aku menyalakan flight mode saat sedang membaca buku. Jadi tangan ga pernah gatal lagi buka HP saat buku ada di samping. Dan ternyata hasilnya dahsyat loh. Pernah aku baca lebih 100 halaman sekali duduk. Waktunya setara dengan scrooling social media. *sigh*

Apakah kita harus malu menenteng buku saat antrian di bank? Hey, kenapa harus maluuu.. Lumayan loh bisa dapat 3-5 lembar. Bahkan aku pernah baca buku sambil berdiri saat mengantri boarding ke Kualanamu dari Penang International Airport. Lumayan loh dapat 10 halaman. Dan yang lebih penting lagi, nunggunya ga pake ngeluh. Tau-tau udah giliran kita aja naik pesawat. Bye-bye Bete!


The whole world opened to me, when i learned to read
-Mary Mcleod Bethune-






No comments:

Post a Comment