Saturday, April 13, 2019

AYAHKU, AYAH JUARA SATU SELURUH DUNIA



Ayahku, ayah juara satu seluruh dunia

Bandara– Rumah Sakit

Di Bandara Kuala Namo yang megah itu kali pertama aku melihatmu duduk di atas kursi roda. Badanmu masih gagah. Tak terlihat seperti orang sakit. Bahkan kau bersikeras ingin jalan kaki saja karena petugas kursi roda terlambat datang. Lupa kalau kondisi kakimu tak lagi sesehat dulu. Bandara Kuala Namo itu sangat luas, tak seperti Polonia, bandara lama kota Medan.

Ingatanku terbang. Teringat bagaimana ayah menyetir mobil sendiri saat ingin kontrol ke rumah sakit. Sesekali ditemani bunda. Dan aku membiarkannya. Aku tak pernah tahu jadwal kontrolnya. Bahkan saat diminta menemani Medical Check-up ke Penang pun, aku masih ogah-ogahan. Padahal tiket dan segala akomodasi ditanggung. Ah, anak macam apa aku ini ya?

Air mata yang menetes di pipi membawa ingatanku kembali ke Penang. Berhari-hari kita mengunjungi Island Hospital, rumah sakit terbaik ketiga di Penang, tanpa hasil. Ternyata untuk bertemu dr.Oh Kim Soon, dokter spesialis bedah tulang terkemuka itu harus membuat janji terlebih dahulu. Ia membatasi maksimal 20 pasien yang dapat berkonsultasi dengannya setiap hari. Sialnya puluhan orang sudah masuk Waiting List.

                                                                             * * * * *

Kursi Roda

Kudorong kursi roda yang ayah naiki dengan hati-hati. Berat badan ayah yang overweight membuatnya gamang, khawatir rodanya tak mampu berfungsi dengan baik. Sudah belasan tahun aku tak pernah memegang kursi roda. Dulu, kursi roda pernah menjadi teman mainku. Hampir setiap sore aku mendorong nenek yang memiki keluhan kaki persis seperti ayah.

                Entah apa sebabnya, tiba-tiba ayah ingin mendorong kursi rodanya sendiri. Pelan-pelan tangannya memutar pegangan roda. Kemudian mulai menikmatinya. Seperti anak kecil yang baru belajar mengendarai sepeda, kursi rodanya meluncur ke setiap sudut rumah sakit. Awalnya, aku selalu mengikuti. Tak lupa menawarkan bantuan yang selalu ditolak mentah-mentah. Bunda menasihatiku untuk membiarkan ayah menikmati “mainan” barunya.

Aku mengamati dari jauh. Kulihat ayah mengambil beberapa brosur kesehatan dan membacanya, tanpa sadar kalau posisi kursi roda di parkir sembarangan. Aku hampiri, dan pindahkan kursi roda agar tak menghalangi jalan. Kemudian ayah bergegas mendekati dispenser yang setiap pagi menyediakan minuman panas bagi pengunjung rumah sakit. Melihat tangannya kesulitan mengambil gelas, aku datang memberikan segelas kopi untuknya. Setelah habis minumannya, kubuang gelas sekali pakai itu ke tempat sampah yang terpajang rapi di setiap sudut rumah sakit.

Tragedi Kecil

Tiba-tiba ada pasien gawat darurat yang baru datang. Aku memindahkan kursi roda ayah yang menghalangi jalan. Tanpa berkata apa-apa. Ayah hanya menatapku bingung tanpa mengerti duduk persoalannya. Kemudian ayah meluncur lagi ke meja resepsionis, menanyakan temannya yang kabarnya dirawat di rumah sakit ini . Beberapa petugas berteriak. Perasaanku tak enak. Ini pasti ada hubungannya dengan ayah.

Ternyata benar. Lantai rumah sakit dipenuhi ceceran cairan pekat (kemungkinan muntah pasien) yang belum dibersihkan. Dan ayah hampir melindasnya. Aku buru-buru lari dan membelokkan kursi roda. Bahkan ayah tak sadar kalau ia sudah membuat kehebohan kecil. Aku menghela nafas. Lega. Dan membayangkan kalau aku terlambat satu detik saja, kursi roda yang ayah naiki sudah mengotori lantai rumah sakit.

Tak lupa aku meminta maaf pada petugas rumah sakit. Mereka tersenyum dan mungkin heran mengapa ada anak yang membiarkan ayahnya naik kursi roda sendirian. Perasaanku campur aduk. Hati kecil ini ingin bilang, ‘ayah, ini rumah sakit, bukan jalanan tempat berlatih dan memainkan kursi roda’. Semua itu hanya kukatakan dalam hati, takut menyinggung perasaannya yang semakin sensitif pasca pensiun dan mengalami post power syndrome.

Capek mondar mandir tanpa diberi kesempatan mendorong, akhirnya kuputuskan untuk duduk manis di sebelah bunda yang sedang menunggu antrian periksa darah. Kuletakkan tangan bunda di pipi, berharap hasil lab nantinya menunjukkan kadar gula darahnya normal. Dari kejauhan kulihat kursi roda ayah didorong oleh perawat. Aku terbengong saat perawat itu tersenyum sambil berkata, “kenapa tak mau tolak ayah?”, dengan logat Melayunya yang kental. Aku menunduk saja. Berusaha memecahkan suasana yang sempat kaku, bunda bercanda, “Didorong anak sendiri ga mau, eh sama perawat cantik mau”. Ayah menjawab lirih, “Nanti aini kecapekan”. Jawaban ayah membuat matakuberkaca-kaca. Aku pikir ini semua tentangnya. Ternyata aku salah. Ini semua tentangku. Saat sakit pun, ia lebih mengkhawatirkan putri bungsunya.

                                                                                     * * * **

Aku dan Ayah saat berjalan-jalan di Penang, di sela-sela pengobatannya.

Metamorfosis

Sepulang pengobatan dari Penang, aku mulai merubah sikap cuekku pada ayah. Belajar mengekspresikan kasih sayang dan rasa takut kehilangan. Mencoba untuk lebih hangat dan menghabiskan banyak waktu untuk ngobrol berdua dengannya. Dan, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa berat meninggalkan rumah walau hanya sehari.

Aku takut kondisi kesehatan ayah menurun. Khawatir, tak lagi sempat meminta maaf dan mencium keningnya untuk terakhir kali. Atas nama profesionalitas aku harus melakukannya. Kontrak kerja Outbound Training yang terlanjur kutandatangani sebelum kesehatan ayah menurun mengharuskan aku meninggalkannya sendirian di rumah. Bunda menghadiri undangan pernikahan ustadz pesantren dimana ayah menjadi Ketua Badan Wakaf. Sebentar saja, lokasi mesjid dan gedung acara diselenggarakan juga hanya beberapa meter dari rumah.  Kakakku menikmati weekend di rumahnya, setelah menghabiskan 5 hari penuh di kantor. Sementara abangku dan keluarga kecilnya menginap di rumah mertuanya sejak kemarin.

Setelah memastikan perlengkapan outbound masuk semua dalam ransel Eiger biru kesayangan, aku menyiapkan keperluan ayah agar ia tak perlu beranjak dari tempat tidur. Tupperware hijau berisi 2 liter air putih hangat, sebotol infused ‘lemon’ water, satu piring berisi buah pear dan pepaya, serta satu sisir pisang tertata rapi di meja samping tempat tidur. Kursi roda untuk berjaga-jaga kalau ayah ingin ke kamar kecil. ak lupa novel Rantau 1 Muara, trilogi terakhir A.Fuadi dan buku Mukjizat Gerakan Shalat kuletak persis disamping ayah agar ia tak bosan.

Sepanjang perjalanan menuju Sayeum Sabah, lokasi outbound berlangsung, wajah ayah tak bisa lepas dari ingatan. Berat rasanya meninggalkan ayah sendiri dan merasa kesepian. Khawatir sesuatu terjadi dengannya dan aku tak bisa dihubungi karna tak ada sinyal. Jangan tuduh aku melakukan semua ini karena materi. Aku memang butuh uang, tapi jumlah nominal yang kudapatkan dua hari bekerja dalam tekanan itu tak sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan.

Disela-sela jam istirahat ketika pelatihan berlangsung, ponselku tak berhenti menghubungi ayah. Sekadar menanyakan kabarnya, apa yang sedang ia lakukan, bagaimana kondisi kesehatannya. Semua kulakukan agar ayah tak pernah merasa diabaikan. Bahkan ia memintaku menggambarkan bagaimana kondisi terbaru tempat pelatihan yang dulu rutin ayah kunjungi saatmasih aktif sebagai Widyaiswara Badan Diklat Sumatera Utara. Nama ayah cukup dikenal di dunia Outbound & Leadership Training di kota Medan.

                                                                               * * * * *

Momen Berharga

Saat kesehatan kaki ayah membaik, ia kembali aktif dengan kegiatan dakwahnya. Mengunjungi pengungsi Sinabung masuk dalam agenda berkala kegiatannya. Kalau waktunya tak bentrok dengan kegiatanku, aku berusaha untuk ikut. Ayah yang mengasah kepekaan sosialku sejak kecil. Aku ingin selalu menemaninya, semaksimal mungkin. Mengikuti dan mendokumentasikan kegiatan di penghujung usianya. Sesekali tak lupa meng-unggah foto-foto ke dalam akun facebooknya. Setua ini, ayah tetap aktif menggunakan socialmedia.

Saat kecelakaan yang membuat pergelangan kakiku terluka dan kelingking kanan terkilir, ayah orang yang paling khawatir. Ia selalu mengingatkanku untuk berhati-hati. Dalam berkendara, ketika kita sudah mentaati peraturan yang ada, keselamatan belum tentu terjamin karena ada banyak orang di sekitar kita yang kurang hati-hati dan tidak sabaran.

Ayah yang memberikan perhatian paling banyak. Ia selalu menanyakan kondisiku. Mengecek  apakah aku sudah makan atau membutuhkan sesuatu. Mengantarkanku kontrol kaki di Dukun Patah Pergendangen, tempat pijat khusus bagi orang yang mengalami cedera. Mendorong kursi roda saat aku tak bisa berjalan dari garasi mobil ke kamar. Membersihkan rambut-rambut yang menempel di roda kursi agar ‘perjalanan’ menuju kamar mandi lebih nyaman.

Jadwal ganti perban tiba. Sebenarnya ayah bisa melakukannya. Kakekku mewarisi ilmu untuk menangani orang yang kecelakaandan patah tulang. Tapi ayah lebih memilih mengantarkanku ke Serdang dan membiarkan Pinem, nenek yang menangani kakiku sejak kecelakaan, yang melakukannya. Tak tahu apa sebabnya. Di perjalanan ayah tiba-tiba menggigit bibirnya. Wajahnya seperti orang yang menahan kesakitan. Aku tanya ayah kenapa tapi ia diam seribu bahasa. Aku takut.

Kuajak ia memutar balik ke rumah, mumpung mobil tua ayah belum terlalu jauh berjalan. Tapi ayah diam saja, tak menuruti saranku. Khawatir vertigonya kambuh, kuajak ia menepi dan minum air putih. Tapi ia tak mau. Aku semakin cemas. Apakah ayah lapar dan asam lambungnya naik. Sebelum berangkat tadi ayah sudah kutawari agar menikmati santap siangnya terlebih dahulu. Ayah menolak dengan dalih agar segera berangkat dan cepat sampai, jalanan kota macet saat jam istirahat siang begini. Menuruti saran dokter, pagi hari ayah hanya sarapan buah-buahan tanpa cemilan diantara jam makan. Hal ini terkadang membuat ayah cepat merasa lapar saat siang. Biasanya ayah makan siang tepat jam dua belas teng.

Akhirnya tiba juga kesempatanku memberikan botol minuman pada ayah. Saat lampu merah di traffic light kampus, ayah minum beberapa teguk air putih. Melintasi drive thru makanan cepat saji, ayah membelokkan mobil ke kiri. Membelikan makanan favorit keponakanku yang juga ikut. Kupesankan ayam dan salad untuk ayah. Ia minta ditambahi kentang goreng. Kuturuti saja permintaannya, padahal ia sedang diet carbo. Bergantian dengan keponakan, kusulangi ayah beberapa potong kentang goreng. Sesekali ayam goreng dicocol saus. Aku sangat menikmatinya. Seingatku, ayah tak pernah mau aku sulang.  Andai saat itu ada yang bisa diminta tolong mengabadikan momen berharga ini.

                                                                       * * * * *

Berharap ayah selalu disampingku…

Setiap kali mendengar surat Al-Fatihah yang ayah baca, air mataku menetes. Bacaannya begitu sendu, seakan-akan itu lantunan terakhir yang keluar dari mulutnya. Ah, mungkin aku yang berlebihan. Siapa yang tahu umur manusia. Rezeki, jodoh, maut dan takdir adalah empat hal yang dirahasiakan-Nya dari siapa pun. Jangan-jangan aku duluan yang dipanggil-Nya.

Jaga kesehatan ya ayah, dunia masih membutuhkan semangatmu. Keluarga membutuhkan panutan seperti dirimu. Ayah, bersabarmenanti genggaman tangannya hingga tanggal akad nikahku kelak. Namun jangan menjadikan itu sebagai ganjalan untuk memenuhi panggilan-Nya. Aku ikhlas. Aku tegar. Aku kuat, kalau Dia lebih dulu memanggilmu. Aku tak sanggup melihat penderitaan ayah memaksa lutut kaki membopong berat badanmu. Kita harus berjuang bersama untuk menurunkan berat badan. Apapun yang terbaik buat ayah, aku dukung! Terima kasih telah menjadi ayah juara satu seluruh dunia. Doa tulus tak pernah berhenti kulukis di lagit untukmu.

                                                                  * * * * *








No comments:

Post a Comment