Sunday, April 7, 2019

BIOGRAFI AYAH



Tak seperti biasa, di suatu pagi ayah memanggilku yang masih di kamar. Semalam aku memang bergadang sampai menjelang subuh, mengerjakan tulisan yang tak kunjung selesai. Karena sangat ngantuk, aku tak keluar kamar. Tapi ayah tetap memanggilku dengan ngototnya. Sampai-sampai bikin ibu bertanya-tanya, ada apa sih kok gitu banget manggilnya. Mau tak mau akhirnya aku keluar kamar. Menahan dongkol, tanpa mencuci muka kutemui ayah yang sudah menunggu dari tadi di ruang tamu.


"Kenapa yah?", tanyaku ogah-ogahan. "Ayah pengen dibuatkan biografi", kata ayah singkat dan tanpa basa-basi. Aku yang tadinya sangat ngantuk dan susah membuka mata, sontak langsung melotot. Buset.. Nulis buku aja belum kesampaian, malah minta dibikinin biografi pula. Lagian aku sangat mengenal karakter ayah. Ia sangat perfeksionis dan pengennya segala sesuatu harus cepat.Belum lagi menulis biografi itu kan terstruktur, berat dan kayaknya bukan gue banget. Mending aku nulis untuk bukuku sendiri. Begitu yang ada di pikiranku.

Namun untuk menolak langsung pada ayah, aku juga tidak sanggup. Bagaimana kalau ini adalah permintaan terakhir beliau? Seumur-umur ayahku tidak pernah meminta apapun dariku. Masa iya cuma diminta tolong bikin buku aja ga mau..Orang lain aja kamu tolong, ni.. Masa ayah sendiri ga mau ditolong sih. Begitu perang batin di pikiranku.

"Kau tulis lah biografi ayah tu.. Mumpung masih sehat. Jangan nanti bukumu udah selesai, kau nangis di kuburan, dek", begitu kata-kata kakakku. Duh, ini orang bukannya memotivasi, malah membuatku merasa terancam.Tapi kata-katanya itu yang membakar semangatku untuk menerima amanah ayah ini. Memantapkan diri untuk bermain lagi dengan keypad. Bertemankan dengan malam, mimpi dan secangkir kopi.

Setelah menyetujui permintaan ayah, aku tak langsung menulis. Limiting belief masih membatasi diriku. Menganggap tak mampu, tak bisa dan menulis biografi itu berat, bergantian bermain di pikiranku. Bahasaku receh, dan beribu excuse lainnya. Ternyata setelah berkomunikasi dnegan diri sendiri, aku menemukan jawabannya. Ternyata ketika menuliskan tentang ayah, emosiku diacak-acak. Sedih, senang, gembira, bahagia, semua bercampur aduk. Tak jarang aliran sungai di mataku tak bisa berhenti. Menulis 3 lembar, nangisnya bisa berjam-jam. Capek, bo'.

Aku terlalu terasosiasi dengan cerita yang kutuliskan. Seakan-akan aku sedang mengalaminya (lagi). Bagus sih karena membuat cerita lebih hidup dan mengalir. Tapi tidak untuk jiwaku. Rasanya energiku tersedot habis. Emosi terkuras. Semacam digurah. Mana nulisnya sering tengah malam lagi. Jadi ga bisa tidur lagi.

Lalu aku bernegosiasi dengan diriku sendiri. Bagaimana caranya agar aku bisa menulis dengan lancar, tetapi kondisi emosi dan jiwa tetap stabil. Aha.. Ternyata kuncinya sederhana sekali. DISOSIASI! Aku sudah mempelajarinya di NLP Essentials. Kok selama ini ga kepikiran yaa..

Caranya sederhana sekali. Aku hanya perlu memberi jarak pada diriku sendiri. Membayangkan sedang menonton aku yang sedang menangis, lalu mundur sejenak. Lantas melihat dari atas agar lebih jelas. Seperti naik helikopter. Itulah mengapa teknik ini sering disebut juga dengan helicopter view.

Sederhana sekali. Dan cara ini cukup ampuh untuk menghentikan tangisanku. Aku jadi bisa memberi nasihat pada diriku yang sedang menangis, apa yang seharusnya aku lakukan. It works!

Bismillah..


Semoga biografi ayah bisa selesai Oktober 2019







No comments:

Post a Comment