Friday, May 17, 2019

MENJADI SEPERTI GUNUNG SINABUNGLAH, ANAKKU..



Menjadi setegar Gunung Sinabung lah, anakku..
Meski dijauhi dan dibenci orang lain,
ia tak pernah berhenti meninggikan asma Tuhan yang menciptakannya..

Menjadi sekokoh Gunung Sinabung lah, anakku..
Meski dicaci dan dimaki orang yang tak menyukainya, ia tetap tegak berdiri..

Menjadi dirimu sendiri lah, anakku..
Meski kau slalu dibandingkan dengan orang lain, tunjukkan keunikan dirimu..
Meski nama besar ayahmu memberatkan pundakmu,
jadikan itu sebagai penyemangat, putri bungsuku..

Kau tak perlu menjadi sekuat ayah.. hanya belajarlah dari semangatku, anakku..
Kau tak harus setegar ayah.. namun belajarlah untuk tidak cengeng, cintaku..
Kau tak perlu menjadi ayah, karena kau bukan diriku..

Kutitipkan sgala harapan untukmu, bukan untuk menjadi lemah..
Kutitipkan sgala asa, agar kau semakin kuat menapaki kehidupan ini..
Berjalanlah terus anakku..
Berlari mendekati Tuhan-Mu..
Hanya Ia yang bisa membantu Mimpi-mimpimu..
Bersinarlah putri bungsu kesayanganku..
Seperti doaku saat menabalkan namamu, Cahaya Mataku..

Thursday, May 2, 2019

Nasihat Ayah di Sepertiga Malam




Nasihat Ayah di Sepertiga Malam

Semangatku terbakar saat melihat umat muslim membanjiri halaman Masjid Desa Nari Gunung, Tanah Karo melimpah ruah. Hujan deras tak membuat langkah mereka surut untuk mendengarkan tausyiah Ustad Jasa Fadillah Ginting dari Lembaga Dakwah Raudhatul Hasanah Medan. Basah kuyup baju di badan malah menghangatkan hati ini. Andai setiap shalat 5 waktu jemaahnya seperti ini. Ah, kutepis lamunan dan harapan itu.

Peringatan Isra' Mi'raj sudah disambut dengan suka cita saja itu harus disyukuri. Bukankah artinya mereka begitu mengagungkan dan mencintai Rasulullah sedemikian besarnya? Meski aliran sungai mengalir lirih di mataku saat melihat shalat Ashar tak diikuti oleh seluruh jemaah. Mereka lebih memilih nongkrong cantik di teras Masjid saat suara imam terdengar lirih dikalahkan oleh suara gemuruh dan tetesan hujan membaca bacaan takbir dan lantunan doa.

Kepulan asap rokok yang memenuhi ruangan masjid tidak membuat semangat mereka mengikuti pengajian luntur. Meski aku tak bisa berhenti batuk sepanjang acara. Atas nama silaturahmi dan dakwah aku berhasil menahan diri tak meninggalkan ruangan sedetikpun, meski sepanjang acara terbatuk-batuk berlomba mendapatkan oksigen diantara nikotin yang berterbangan.

Tanah Karo ini kampung halaman ayahmu nak..
Bantu ayah agar ketika ditanya di Padang Mahsyar kelak 'apa yang sudah kamu lakukan agar Masyarakat Karo shalat dan melaksanakan perintah-Ku wahai Ilyas Tarigan..'
Kita punya tanggung jawab besar untuk mendekatkan mereka pada Allah nak..
Kalau bukan kita orang Karo yang peduli, lantas siapa lagi?
Apakah kamu tidak menangis saat peringatan Allah bertubi-tubi datang melalui Sinabung tapi mereka tidak sedikitpun takut dan menyebut asma Allah. Anakku..
Jangan sampai tempat kelahiran leluhurmu ini mendapat azab besar.
Jika masih ada umat yang beristighfar, Allah akan menjauhkan azab dari negeri itu.

Cahaya Mataku..
Belajarlah dengan hatimu..
Bukan mata mu yang buta,
tapi hati di dalam dada..


Meski Agustus nanti usia ayah memasuki 72 tahun, namun semangat tak pernah berhenti membakar dada. Tertatih-tatih berjalan menggunakan tongkat, namun ayah tetap kokoh melangkah.

Anakku.. Belajarlah dari sejarah yang tertulis indah di kitab suci.
Jangan pernah gadaikan keimananmu dengan apapun.
Letakkan Allah Yang Maha Tinggi di dalam hatimu.
Iman tak bisa diwarisi, nak..
Amal shalih tidak bisa ayah hadiahkan untukmu.


Putri bungsu kesayanganku..
Perbaiki wudhu dan shalatmu, sayang..
Jangan pernah menjadi orang yang lalai.
Jangan jadikan ayah batu bakar di Neraka.
Sungguh, tangan ayah tak sanggup memegang bara api..

Ayah minta maaf nak, tak berhasil menanamkan kecintaan pada Allah Azza Wa Jalla sedari kecil.
Melewati usia keemasan-mu mengenalkan Rahman Rahim-nya.
Maafkan ayahmu, cinta..
Ayah pun tertatih-tatih mempelajari Pencipta Alam Semesta ini di usia senja.
Jangan kurangi timbangan amal kebaikan ayah yang setitik ini, nak..