Saturday, June 15, 2019

Dekap Aku Dalam Doamu, Yah..

Foto di Pantai Barus, satu dasawarsa yang lalu


Merindukan nasihat Tenzing Norgay-ku, lelaki paling hebat yg dalam kamus hidupku. Ayah yg paling sabar menghadapi kenakalanku dan memilih mendoakan dibanding memarahiku. Pria yg dulu paling sulit kupahami kini menjadi paling lekat di hati. 

Sejak ayah sakit di awal Januari 2010 yang lalu, aku berusaha mendampinginya berdakwah keluar kota semampuku. Meski sulit bagiku menandingi stamina ayah yg agustus nanti memasuki usia 72 tahun.
Sehat-sehat ya pak, aku masih membutuhkanmu untuk mendekatkanku padaNya. Terima kasih utk semua doa yg Kau panjatkan di tempat mustajab, Semoga Allah segera mengabulkan. 

Maafkan anak-anak ayah yg belum bisa membalas kebaikan dan jasa baikmu. Aku bangga memiliki ayah sepertimu. Semoga semangat dan kepedulianmu mengalir dalam darahku. Meski kau tak pernah mengatakan mencintaiku, bahasa tubuhmu menunjukkan lebih dari yg kubutuhkan.

Ayah, aku rindu dekapanmu. Aliran doamu telah membuka pintu rezeki dan relasi dalam momentum hidupku. Tak sabar rasanya menanti kepulanganmu, mendengar cerita perjalanan spiritual dan menuliskannya bersama sehingga buku biografi ayah akan segera terbit. 

Terima kasih telah menjadi matahari jiwaku dan slalu ada disampingku. Ayah, bersabarlah. Allah akan menunjukkan the power of praying seperti keberangkatan ayah ke Tanah suci. Semua nya serba tiba-tiba dan mengejutkan. 

Ananda hanya bisa berdoa, sisa umur ayah berkah dan bermanfaat bagi banyak orang. Sehingga ketika Dia memanggilmu, "ya ayyatuhannasul muthmainnah.. Irji'i ila Robbi kirodiayatammardhiah.. Wadkhuli fi ibadi.. Wadkhuli jannati.. Dan aku bisa mengiringi kepergianmu dengan senyuman.. :)

2 comments: