Wednesday, July 31, 2019

Jatuh, Bangkit dan Melangkah Lagi



"Menurut kakak, gagal itu apa?", kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir mungilnya. Kuhirup dalam-dalam kopi pesananku sambil menatap wajahnya. Baru dua kali aku bertatap muka dengannya. Pertemuan pertama sudah beberapa bulan yang lalu, lalu setelahnya lama tak bertukar kata hingga tiba-tiba ia mengajak bertemu.

Aku berbagi cerita sedikit tentang hidupku. Bisa jadi dikategorikan gagal oleh sebagian orang, tapi aku memaknainya berbeda. Aku lebih suka menyebutnya dengan pengalaman hidup. Bukankah setiap orang memiliki jalur kesuksesan yang berbeda? Bahkan definisi kesuksesan setiap orang saja bisa berbeda.

Lalu kukembalikan pertanyaannya tadi ke dirinya, kalau menurutmu gagal itu gimana?
Tak ada yang namanya kegagalan, yang ada hanya proses. Gagal itu hanya ketika jatuh dan lupa untuk bangkit. Kalau jatuh dan kita bangkit, itu adalah proses kehidupan. Lalu mengalirlah cerita tentang pengalaman hidupnya. Berkali-kali jatuh, bahkan di dunia hitam yang tak pernah terbayangkan di kepala. Bagaimana ia menjalani kehidupan yang penuh nestapa hingga akhirnya bisa terdampar ke kota kelahiranku.

Di kota ini aku mulai menyesali perbuatanku, kak.. Menyadari kalau jalan hidup yang kupilih ini salah. Aku bertaubat dan pelan-pelan hijrah. Alhamdulillah, Allah pertemukan aku dengan orang yang mendekatkanku dengan-Nya.

Kuamati wajahnya, ingin rasanya mengatakan kalau aku yang berada di posisinya aku takkan sanggup menghadapi semua ini. Namun aku sadar, ia mengajakku bertemu bukan untuk minta dikasihani. Bukan untuk mendengar kata-kata yang tak memberdayakan. Ia butuh didampingi untuk bertumbuh dan melejitkan potensi dirinya.

Tugas kita adalah memperbaiki perilaku agar lebih baik dari kemarin. Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.

There is no failure, only feedback. Tidak ada kegagalan, yang ada hanya PEMBELAJARAN.
Apa yang akan kita lakukan jika tahu bahwa kita tak mungkin gagal? Tentu kita akan mencoba setiap peluang kan? Karena gagal tidak pernah ada di kamus kita.

Lalu apa yang akan dilakukan jika kita menerima bahwa setiap kegagalan adalah sebuah proses belajar? Hmmm..  Aku yakin kita akan menjadi manusia pembelajar sejati dengan tingkat kesuksesan tinggi.






No comments:

Post a Comment