Friday, September 13, 2019

Surat dari Ayah



Mungkin setelah membaca tulisan sebelumnya yang berjudul “Bingkai Kehidupan Ayah”, kalian akan bertanya-tanya apakah ayahku sudah pernah membaca tulisan itu. Lantas bagaimana ekspresinya? Jujur saja, pada awalnya tulisan itu hanya kusimpan di dalam laptop saja. Niatnya sih kalau rajin aku mau melanjutkan tulisan itu hingga menjadi sebuah buku. Kemudian akan kuhadiahkan pada ulang tahun ayah, 15 Agustus. Ternyata kesibukan kerja dan kehidupan di Ibukota membuat aku melupakan tentang semua itu. Hingga kantor mengirimkan aku dinas keluar kota selama sebulan. Berada di kota kecil tanpa hiburan yang berarti membuatku bosan. Iseng-iseng kubuka lagi tulisan lamaku. Setelah berfikir mendalam, aku memilih untuk mengirimkan tulisan itu pada ayah. Melalui bantuan teknologi, tulisan itu akhirnya bisa dibaca ayah. Lantas ia mengirimkan email balasan. Aku saja kaget dan berkaca-kaca membacanya. Padahal saat itu aku sedang berada di kantor HRD PT.INKA, tempat perusahaan mengirimku sepuluh tahun yang lalu. Belakangan aku sangat bersyukur telah mengambil keputusan yang tepat. Laptop lamaku itu kini rusak bersama seluruh data-dataku, termasuk tulisanku tentang ayah. Tulisan itu tersimpan rapi di sentbox emailku. Apa jadinya kalau saat itu aku mengurungkan niatku tuk mengirimkannya ke ayah ya..
                                                          
                                                                                              *  *  *  *  *
2015 ketika Ayah diundang umroh oleh Atase Saudi Arabia

 Puteri bungsu yang tercinta..

Terima kasih atas penilaian dan penghargaan yang ananda berikan kepada ayahanda sebagai orangtua. Namun  barangkali penilaian tersebut masih jauh dari keadaan yang sebenarnya, karena ayahanda menyadari akan kurangnya pengetahuan yang ayahanda miliki tentang cara mendidik anak. Hal ini sangat terkait dengan pendidikan yang ayahanda geluti sehari-hari  lebih banyak bergaul dengan benda mati, bahan obat, kimia, botol-botol, alat timbang dan segala bahan yang ada di laboratorium, yang semua itu tidak dapat berbicara tapi bisa bersaksi dan berkata-kata dengan orang yang dapat mendengarkannya.

Kurangnya pengetahuan tentang psikologi dan kejadian serta perkembangan manusia menimbulkan dorongan untuk mencari bahan bacaan tentang manusia, alam dan penciptanya. Keinginan untuk lebih mengenal manusia ini, tidak terlepas karena nabi pernah bersabda siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Allah.

Satu persatu buku tentang Allah dan ciptaannya ayahmu cari nak..
Meski dengan tertatih-tatih namun alhamdulillah, Allah SWT memberikan kekuatan dan semangat untuk belajar dan belajar karena keyakinan bahwa orang yang menuntut ilmu itu adalah fisabilillah, karena islam sangat menghargai orang yang berilmu. Di dalam Al Quran maupun hadis nabi, sangat banyak yang berkenaan dengan ilmu. Dalam proses demikian mulai ada satu dua buka psikologi yang terbaca sehingga menyadari sangat banyak cara mendidik yang tidak sesuai atau bahkan mungkin salah yang pernah ayahanda terapkan dalam memberikan pendidikan kepada ananda bertiga. Maafkan ayahmu nak. Tujuan dan niat baik saja rupanya tidak cukup dalam mendidik. Ayahanda  yang merasa memperoleh amanah dari Allah swt sangat berkeinginan mendidik ananda agar dapat terwujud sebagai mahluk  yang sesuai dengan tuntunan yang diinginkan sang Khaliq. Semestinya niat itu harus diiringi dengan pengetahuan, keterampilan dan metode yang baik. Ilmu tentang metode inilah yang belum ayahanda miliki karena belum sempat dulu belajar jadi orang tua.

Jalan-jalan di Taman Balekambang, Solo sepulang kontrol dari Rumah Sakit Tulang


Mohon maaf ananda bertiga kalau sistem pendidikan yang ayahanda terapkan kurang sesuai, semoga ananda dapat memaafkan dan memahaminya serta jangan terulang kembali kepada generasi berikut. Itu rupanya salah satu makna dari hadis nabi menyuruh kita terus menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Belajar sepanjang hayat. Belajar, belajar dan belajar anakku, lalu sebarkan dan bagikan ilmumu untuk generasi penerus bangsa semoga kelak muncul sumber daya manusia yang berkualitas, jujur dan berahlak mulia dari bibit yang kita semai.

Semoga kita termasuk orang yang sukses dan beruntung.

Qad aflahal mu'minun.
Alladzinahum fi shalatihim khasyi'un.
Walladzinahum'anillaghwi mu'ridhun.
Walladzinahum lidzakati fa'ilun.
Walladzinahum li furuzihim khafidzun illa 'ala adjwajihim au ma malakat aidihim fainnahum ghairu malumin.
Famanibtagha waraa dzalika faulaika humul 'adun
Walladzinahum li amanatihim waa'dihim ro'un.
Walladzinahum 'ala sholawatihim yukhofidzun.
Ulaikahumul waritsun.
Alladzina yarisunalfirdaus.
Hum fiha khalidun
QS. Al-Mu'minun 1-11

Dekatkan diri kepada Allah,berusaha dan berdoa, semoga Allah memudahkan jalan kesuksesan.Amin.


Wassalam,
ayahanda yang selalu mendoakan ananda,


                                                                                         *  *  *  *  *
Berbuka Puasa Bersama Anak Cucu Tercinta


Dan setiap kali aku membaca tulisan ayah ini, air mataku selalu mengalir. Tak peduli dimanapun aku berada saat itu. Hingga sekarang.. Sungguh aku sangat kangen ayah. Ingin memeluk dan mendekap ayah. Ingin membisikkan di telinganya bahwa aku mencintainya, apa adanya. Aku beruntung memiliki ayah yang pengertian dan mau belajar sepertinya. Aku tak pernah menyalahkan sistem pendidikan yang dianutnya. Tak ada yang salah ayah.. Mungkin kalau ayah terlalu lembek pada kami,  kami tak bisa sukses seperti sekarang. Kini ketiga anak ayah sudah lulus kuliah dan bekerja. Dua diantaranya sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil, seperti ayah. Kakak dan abang sudah menikah dan dianugrahi enam putera puteri gagah dan cantik. Maaf ya ayah, putri bungsu belum bisa mewujudkan impian ayah.

Satu hal yang ingin kukatakan,

Terima kasih telah mendidikku dengan ekstra sabar hingga aku bisa bermetamorfosis dengan sempurna..

Kau adalah ayah paling hebat seluruh dunia..

Suami yang sukses membawa seorang wanita muallaf hingga menjadi muslimah sejati yang tak pernah tinggal shalat dan puasa sunnat-nya..

Ayah yang berbesar hati atas pilihan puteri sulungnya dan menikahkannya dengan sakral.
Kakek tiga bidadari jelita yang aktif dan jenaka..

Hamba Allah yang insya Allah taqwa di mata Sang Pencipta..

Lantas apa lagi yang ayah pikirkan..?

Anak bungsu yang tak kunjung dipertemukan dengan jodohnya?
Atau pekerjaannya yang bahkan belum punya gaji bulanan yang tetap?


Ayahku sayang,
Yakinlah.. Awal tahun 2020 nanti akan tiba saatnya ayah akan menggenggam erat tangan calon mempelai pria dan mengucapkan ijab kabul.. Bersabarlah, anakmu ini juga sedang berusaha.. Izinkan aku meningkatkan kualitas diriku agar mendapatkan suami yang shalih.. suami yang tak hanya sekedar siap menikah, tapi juga siap menjadi orangtua bagi anak-anak kami kelak..

Insya Allah waktunya tak kan lama lagi.. Nanti, saat ayah pulang mengantarkan bunda umroh (dan tentu saja berdoa di Raudhah untuk belahan jiwa ananda), akan ananda bawa pangeran tangguh itu ke rumah kita.. Semoga pilihan ananda itu sesuai dengan kriteria ayah bunda..

And the last. But no least..

Sejuta maaf pun yang keluar dari bibir ayah tak kan mampu merubah perasaan bersalah ini. Tentang kenakalanku. Tentang kebodohanku. Tentang uangmu yang habis aku gunakan. Tentang kelalaianku. Tentang jalan hidupku yang berbeda. Segalanya tentangku. Tapi, aku selalu memohon Allah mengampunkan dosa-dosaku dan melipatgandakan pahalamu. Dan kau tersenyum saat Ia memanggilmu dengan sebutan Nafsul Muthmainnah.. Dan kemudian Ayah memenuhi panggilan-Nya.. ‘Wadkhulii Jannati..”.

I'll hold your hands, till the end..
 

No comments:

Post a Comment