Thursday, August 13, 2020

Percaya Diri Adalah Sebuah Keahlian

August 13, 2020 0
Percaya diri adalah meyakinkan dan penilaian (judgement) diri sendiri dalam melakukan tugas dan memilih pendekatan yang efektif.

Berapa kali kita mengatakan tidak percaya diri? Entah itu karena penampilan kita, kemampuan yang dimiliki, apa yang kita kerjakan, dan lain-lain.

Sebenarnya apa sih yang membuat seseorang tidak percaya diri?
Ada banyak faktor yang mempengaruhi manusia tidak percaya diri, antara lain :

1. Membanding-bandingkan diri dengan orang lain.
Kita lupa kalau setiap manusia itu sudah dianugerahi kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Seringkali kita terlalu fokus pada kekurangan diri sendiri dan iri melihat kelebihan orang lain. Hal ini lah yang menyebabkan kita tidak percaya diri. Padahal setiap manusia diberi peran dan kewajiban yang berbeda. Allah menciptakan manusia dengan misi yang berbeda-beda. Temukan misi hidupmu! Dengan menemukan misi hidup, kamu akan menerima kekurangan dan kelebihan diri. Dan yang terpenting tidak lagi membandin-bandingkan diri dengan orang lain. Dengan begitu tingkat kepercayaan diri yang kamu miliki akan meningkat.

2. Memiliki ekspektasi yang terlalu besar pada diri sendiri
Dalam melakukan suatu pekerjaan, biasanya kita punya ekspektasi terhadap diri sendiri. Itu tidak salah. Hanya saja kita sering lupa mengukur kemampuan diri. Memiliki ekspektasi di atas kemampuan diri bisa membuat kecewa. Rasa kecewa inilah yang bisa membuat kita tidak percaya diri ketika ingin melakukannya lagi. Entah itu pekerjaan yang sama persis, maupun yang tingkat kesulitannya lebih tinggi. Coba turunkan kadar ekspektasimu, ukur kemampuan diri. Semoga ini bisa membuat rasa Pede-mu naik.

3. Kurang persiapan
Saat diminta melakukan presentasi, kerap kali kita merasa kurang percaya diri. Mengapa hal ini bisa terjadi? Berdasarkan pengalaman pribadi, biasanya itu terjadi karena kurang persiapan. Tidak mempersiapkan materi dengan baik, kurang riset, kurang berlatih. Bandingkan ketika kita sudah mempersiapkan dengan matang, kita jauh lebih percaya diri kan?

4. Belum pernah melakukan
Ketika melakukan sesuatu untuk pertama kali, biasanya kita menjadi tidak percaya diri. Hal ini sebenarnya adalah reaksi normal dari tubuh. Maka gunakan perasaan tidak percaya diri ini sebagai sebuah alat. Ya, karena tidak percaya diri, kita jadi mempersiapkan lebih matang kan? Berlatih lebih sering dan riset terkait hal ini lebih mendalam. There's a first time for everything!

Terkait hal ini, setiap orang pasti pernah merasa tidak percaya diri, termasuk diriku. Tidak percaya kalau punya kemampuan di bidang tersebut. Padahal bukan satu dua orang yang memuji kalau apa yang kulakukan bagus. Contohnya menulis. Banyak orang yang mengatakan kalau aku punya kemampuan menulis yang baik. Tulisanku mengalir, enak dibaca dan menyentuh hati, begitu kata beberapa teman. Tapi aku berpikiran sebaliknya. Menurutku tulisanku biasa-biasa saja, semua orang juga bisa menulis seperti itu. Ya, aku tidak percaya diri.

Temanku juga mengatakan kalau aku punya modal kemampuan public speaking. Ketika aku berbicara di depan umum, orang-orang akan memperhatikanku dengan senang hati. Namun aku berpendapat sebaliknya. It just taken for granted. Ketika diminta sharing, kerap kali aku menolaknya. Aku merasa tidak mampu dan tidak pantas untuk berada di depan, menjadi pusat perhatian orang banyak. Alih-alih berlatih, aku justru membuang kesempatan setiap kali tawaran 'nampil' datang. Rugi banget kan? Cuma karena rasa tidak percaya diri. Betapa berbahayanya rasa tidak percaya diri ini. Bahkan ia bisa merusak citra diri positif. Ya, ketika diri kita berulang kali merasa tidak percaya diri, itu sama saja artinya kita meremehkan diri kita sendiri. Kalau bukan kita yang percaya pada diri kita sendiri, lantas siapa lagi?

Kamu punya cerita apa tentang percaya diri? Sharing yuuk..!


Friday, September 13, 2019

Surat dari Ayah

September 13, 2019 0


Mungkin setelah membaca tulisan sebelumnya yang berjudul “Bingkai Kehidupan Ayah”, kalian akan bertanya-tanya apakah ayahku sudah pernah membaca tulisan itu. Lantas bagaimana ekspresinya? Jujur saja, pada awalnya tulisan itu hanya kusimpan di dalam laptop saja. Niatnya sih kalau rajin aku mau melanjutkan tulisan itu hingga menjadi sebuah buku. Kemudian akan kuhadiahkan pada ulang tahun ayah, 15 Agustus. Ternyata kesibukan kerja dan kehidupan di Ibukota membuat aku melupakan tentang semua itu. Hingga kantor mengirimkan aku dinas keluar kota selama sebulan. Berada di kota kecil tanpa hiburan yang berarti membuatku bosan. Iseng-iseng kubuka lagi tulisan lamaku. Setelah berfikir mendalam, aku memilih untuk mengirimkan tulisan itu pada ayah. Melalui bantuan teknologi, tulisan itu akhirnya bisa dibaca ayah. Lantas ia mengirimkan email balasan. Aku saja kaget dan berkaca-kaca membacanya. Padahal saat itu aku sedang berada di kantor HRD PT.INKA, tempat perusahaan mengirimku sepuluh tahun yang lalu. Belakangan aku sangat bersyukur telah mengambil keputusan yang tepat. Laptop lamaku itu kini rusak bersama seluruh data-dataku, termasuk tulisanku tentang ayah. Tulisan itu tersimpan rapi di sentbox emailku. Apa jadinya kalau saat itu aku mengurungkan niatku tuk mengirimkannya ke ayah ya..
                                                          
                                                                                              *  *  *  *  *
2015 ketika Ayah diundang umroh oleh Atase Saudi Arabia

 Puteri bungsu yang tercinta..

Terima kasih atas penilaian dan penghargaan yang ananda berikan kepada ayahanda sebagai orangtua. Namun  barangkali penilaian tersebut masih jauh dari keadaan yang sebenarnya, karena ayahanda menyadari akan kurangnya pengetahuan yang ayahanda miliki tentang cara mendidik anak. Hal ini sangat terkait dengan pendidikan yang ayahanda geluti sehari-hari  lebih banyak bergaul dengan benda mati, bahan obat, kimia, botol-botol, alat timbang dan segala bahan yang ada di laboratorium, yang semua itu tidak dapat berbicara tapi bisa bersaksi dan berkata-kata dengan orang yang dapat mendengarkannya.

Kurangnya pengetahuan tentang psikologi dan kejadian serta perkembangan manusia menimbulkan dorongan untuk mencari bahan bacaan tentang manusia, alam dan penciptanya. Keinginan untuk lebih mengenal manusia ini, tidak terlepas karena nabi pernah bersabda siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Allah.

Satu persatu buku tentang Allah dan ciptaannya ayahmu cari nak..
Meski dengan tertatih-tatih namun alhamdulillah, Allah SWT memberikan kekuatan dan semangat untuk belajar dan belajar karena keyakinan bahwa orang yang menuntut ilmu itu adalah fisabilillah, karena islam sangat menghargai orang yang berilmu. Di dalam Al Quran maupun hadis nabi, sangat banyak yang berkenaan dengan ilmu. Dalam proses demikian mulai ada satu dua buka psikologi yang terbaca sehingga menyadari sangat banyak cara mendidik yang tidak sesuai atau bahkan mungkin salah yang pernah ayahanda terapkan dalam memberikan pendidikan kepada ananda bertiga. Maafkan ayahmu nak. Tujuan dan niat baik saja rupanya tidak cukup dalam mendidik. Ayahanda  yang merasa memperoleh amanah dari Allah swt sangat berkeinginan mendidik ananda agar dapat terwujud sebagai mahluk  yang sesuai dengan tuntunan yang diinginkan sang Khaliq. Semestinya niat itu harus diiringi dengan pengetahuan, keterampilan dan metode yang baik. Ilmu tentang metode inilah yang belum ayahanda miliki karena belum sempat dulu belajar jadi orang tua.

Jalan-jalan di Taman Balekambang, Solo sepulang kontrol dari Rumah Sakit Tulang


Mohon maaf ananda bertiga kalau sistem pendidikan yang ayahanda terapkan kurang sesuai, semoga ananda dapat memaafkan dan memahaminya serta jangan terulang kembali kepada generasi berikut. Itu rupanya salah satu makna dari hadis nabi menyuruh kita terus menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Belajar sepanjang hayat. Belajar, belajar dan belajar anakku, lalu sebarkan dan bagikan ilmumu untuk generasi penerus bangsa semoga kelak muncul sumber daya manusia yang berkualitas, jujur dan berahlak mulia dari bibit yang kita semai.

Semoga kita termasuk orang yang sukses dan beruntung.

Qad aflahal mu'minun.
Alladzinahum fi shalatihim khasyi'un.
Walladzinahum'anillaghwi mu'ridhun.
Walladzinahum lidzakati fa'ilun.
Walladzinahum li furuzihim khafidzun illa 'ala adjwajihim au ma malakat aidihim fainnahum ghairu malumin.
Famanibtagha waraa dzalika faulaika humul 'adun
Walladzinahum li amanatihim waa'dihim ro'un.
Walladzinahum 'ala sholawatihim yukhofidzun.
Ulaikahumul waritsun.
Alladzina yarisunalfirdaus.
Hum fiha khalidun
QS. Al-Mu'minun 1-11

Dekatkan diri kepada Allah,berusaha dan berdoa, semoga Allah memudahkan jalan kesuksesan.Amin.


Wassalam,
ayahanda yang selalu mendoakan ananda,


                                                                                         *  *  *  *  *
Berbuka Puasa Bersama Anak Cucu Tercinta


Dan setiap kali aku membaca tulisan ayah ini, air mataku selalu mengalir. Tak peduli dimanapun aku berada saat itu. Hingga sekarang.. Sungguh aku sangat kangen ayah. Ingin memeluk dan mendekap ayah. Ingin membisikkan di telinganya bahwa aku mencintainya, apa adanya. Aku beruntung memiliki ayah yang pengertian dan mau belajar sepertinya. Aku tak pernah menyalahkan sistem pendidikan yang dianutnya. Tak ada yang salah ayah.. Mungkin kalau ayah terlalu lembek pada kami,  kami tak bisa sukses seperti sekarang. Kini ketiga anak ayah sudah lulus kuliah dan bekerja. Dua diantaranya sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil, seperti ayah. Kakak dan abang sudah menikah dan dianugrahi enam putera puteri gagah dan cantik. Maaf ya ayah, putri bungsu belum bisa mewujudkan impian ayah.

Satu hal yang ingin kukatakan,

Terima kasih telah mendidikku dengan ekstra sabar hingga aku bisa bermetamorfosis dengan sempurna..

Kau adalah ayah paling hebat seluruh dunia..

Suami yang sukses membawa seorang wanita muallaf hingga menjadi muslimah sejati yang tak pernah tinggal shalat dan puasa sunnat-nya..

Ayah yang berbesar hati atas pilihan puteri sulungnya dan menikahkannya dengan sakral.
Kakek tiga bidadari jelita yang aktif dan jenaka..

Hamba Allah yang insya Allah taqwa di mata Sang Pencipta..

Lantas apa lagi yang ayah pikirkan..?

Anak bungsu yang tak kunjung dipertemukan dengan jodohnya?
Atau pekerjaannya yang bahkan belum punya gaji bulanan yang tetap?


Ayahku sayang,
Yakinlah.. Awal tahun 2020 nanti akan tiba saatnya ayah akan menggenggam erat tangan calon mempelai pria dan mengucapkan ijab kabul.. Bersabarlah, anakmu ini juga sedang berusaha.. Izinkan aku meningkatkan kualitas diriku agar mendapatkan suami yang shalih.. suami yang tak hanya sekedar siap menikah, tapi juga siap menjadi orangtua bagi anak-anak kami kelak..

Insya Allah waktunya tak kan lama lagi.. Nanti, saat ayah pulang mengantarkan bunda umroh (dan tentu saja berdoa di Raudhah untuk belahan jiwa ananda), akan ananda bawa pangeran tangguh itu ke rumah kita.. Semoga pilihan ananda itu sesuai dengan kriteria ayah bunda..

And the last. But no least..

Sejuta maaf pun yang keluar dari bibir ayah tak kan mampu merubah perasaan bersalah ini. Tentang kenakalanku. Tentang kebodohanku. Tentang uangmu yang habis aku gunakan. Tentang kelalaianku. Tentang jalan hidupku yang berbeda. Segalanya tentangku. Tapi, aku selalu memohon Allah mengampunkan dosa-dosaku dan melipatgandakan pahalamu. Dan kau tersenyum saat Ia memanggilmu dengan sebutan Nafsul Muthmainnah.. Dan kemudian Ayah memenuhi panggilan-Nya.. ‘Wadkhulii Jannati..”.

I'll hold your hands, till the end..
 

Monday, August 5, 2019

Dia dan Kesendirian

August 05, 2019 0



Ada banyak cara yang dilakukan orang ketika merasa kehilangan. Mengapa kamu memilih menyendiri? Mengabaikan perhatian tak bertepi yang diberikan sahabat-sahabatmu. Tentang kehilangan dan melepaskan memang bukan perkara gampang untuk dilakukan. Mungkin 4 SKS dalam satu semester tidak cukup untuk membuatmu memahami.

Ada perasaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Seperti benang kusut yang tak tahu dimana ujungnya. Entahlah, definisi apa yang harus dipelajari. Apakah ia bernama kecewa, atau gempita? Atau hanya merasakan hampa. Kosong, seperti tanpa udara. Apakah ini rindu yang bergelayut mesra? Atau hanya amarah gejolak sukma?

Apapun yang kamu rasakan, jangan sampai mengaduk-aduk jiwa. Ingat, remote control pengendali emosi itu ada di tanganmu, bukan mereka. Bungkam cemoohan dan tawa sinis yang mereka lemparkan itu dengan senyuman dan keberhasilan. Buktikan kamu bisa melampaui perjuangan ini sampai akhir. Kalau pernah menerjang badai, kenapa harus menggigil menghadapi gerimis?

Take a deep breath..
Menepi sejenak untuk berdamai dengan diri sendiri itu sah-sah saja. Hanya jangan kelamaan. Dunia menunggu prestasimu. Tanggungjawabmu sudah dinanti.

Untuk seorang sahabat,
Aku merindukanmu..

Wednesday, July 31, 2019

Jatuh, Bangkit dan Melangkah Lagi



"Menurut kakak, gagal itu apa?", kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir mungilnya. Kuhirup dalam-dalam kopi pesananku sambil menatap wajahnya. Baru dua kali aku bertatap muka dengannya. Pertemuan pertama sudah beberapa bulan yang lalu, lalu setelahnya lama tak bertukar kata hingga tiba-tiba ia mengajak bertemu.

Aku berbagi cerita sedikit tentang hidupku. Bisa jadi dikategorikan gagal oleh sebagian orang, tapi aku memaknainya berbeda. Aku lebih suka menyebutnya dengan pengalaman hidup. Bukankah setiap orang memiliki jalur kesuksesan yang berbeda? Bahkan definisi kesuksesan setiap orang saja bisa berbeda.

Lalu kukembalikan pertanyaannya tadi ke dirinya, kalau menurutmu gagal itu gimana?
Tak ada yang namanya kegagalan, yang ada hanya proses. Gagal itu hanya ketika jatuh dan lupa untuk bangkit. Kalau jatuh dan kita bangkit, itu adalah proses kehidupan. Lalu mengalirlah cerita tentang pengalaman hidupnya. Berkali-kali jatuh, bahkan di dunia hitam yang tak pernah terbayangkan di kepala. Bagaimana ia menjalani kehidupan yang penuh nestapa hingga akhirnya bisa terdampar ke kota kelahiranku.

Di kota ini aku mulai menyesali perbuatanku, kak.. Menyadari kalau jalan hidup yang kupilih ini salah. Aku bertaubat dan pelan-pelan hijrah. Alhamdulillah, Allah pertemukan aku dengan orang yang mendekatkanku dengan-Nya.

Kuamati wajahnya, ingin rasanya mengatakan kalau aku yang berada di posisinya aku takkan sanggup menghadapi semua ini. Namun aku sadar, ia mengajakku bertemu bukan untuk minta dikasihani. Bukan untuk mendengar kata-kata yang tak memberdayakan. Ia butuh didampingi untuk bertumbuh dan melejitkan potensi dirinya.

Tugas kita adalah memperbaiki perilaku agar lebih baik dari kemarin. Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.

There is no failure, only feedback. Tidak ada kegagalan, yang ada hanya PEMBELAJARAN.
Apa yang akan kita lakukan jika tahu bahwa kita tak mungkin gagal? Tentu kita akan mencoba setiap peluang kan? Karena gagal tidak pernah ada di kamus kita.

Lalu apa yang akan dilakukan jika kita menerima bahwa setiap kegagalan adalah sebuah proses belajar? Hmmm..  Aku yakin kita akan menjadi manusia pembelajar sejati dengan tingkat kesuksesan tinggi.






Friday, July 19, 2019

AKU YANG (PERNAH) SALAH



Kalau setiap orang yang melakukan kesalahan menarik diri, apalagi sampai mengundurkan diri, bisa bangkrut dunia, bukan hanya perusahaan, katanya sambil tersenyum menghibur. Salah itu manusiawi. Selagi kamu masih manusia, ga akan bisa lepas dari kesalahan. Dari kesalahan kita belajar. Dari kesalahan kita memetik hikmah. Dari kesalahan kita mendapatkan makna baru. Dari kesalahan juga kita belajar tentang penerimaan. Kesalahan juga mengajarkan kita ilmu tentang melepaskan. Kesalahan itu proses pembelajaran, kalau kita mau evaluasi diri, melakukan perbaikan dan recovery.

Kalau tak mengenal kesalahan, proses pembelajaran kita ga utuh. Pengalaman kita ga komprehensif. Penerimaan kita kurang bulat. Keikhlasan kita dipertanyakan. Sekarang aku tanya, siapa sih di dunia ini yang luput dari kesalahan?, lanjutnya sambil tersenyum simpul. Ga ada kan. Jadi aku harap kamu belajar banyak dari kesalahan yang kamu lakukan ini. Udah ah nangisnya, kamu jelek kalo mewek.

Sambil menyeka airmata yang tak berhenti mengalir di pipi, aku menarik nafas. Selama aku mengenalmu, baru kali ini aku melakukan kesalahan, kok ya langsung fatal, kataku sambil menahan isakan tangis.

Selama kamu masih manusia, maka yang namanya salah itu keniscayaan.
Apa yang sudah terjadi, tinggal diambil pembelajarannya, supaya bisa dilakukan perbaikan. Karena hidup itu adalah rangkaian kesalahan, rangkaian perbaikan, rangkaian perubahan dan rangkaian kesuksesan. Diujungnya hidup adalah rangkaian rasa syukur.

Pembelajaran apa yang kamu dapatkan dari kejadian ini?
Renungi dalam-dalam..
Aku harap kamu bisa belajar banyak dari kejadian ini.


Saturday, July 6, 2019

Bingkai Kehidupan Ayah



Inspirasi datang menghampiri benakku, tak lama setelah kukembalikan ke rak, buku ‘IPDN Undercover; Sebuah Kesaksian Bernurani’, autobiografi Inu Kencana Safiie. “Aku ingin menulis biografi Ayahku”, bisik hati kecilku. Kalaupun tak ada penerbit yang mau menerbitkannya karena ayahku kurang terkenal dan tidak fenomenal seperti Inu Kencana, paling tidak keturunannya kelak bisa mengenal sosok yang kukagumi itu melalui sebuah tulisan, itu harapan yang lahir dari diriku, jika mereka kurang beruntung dan tak sempat bertatap muka langsung. Sayang, ayahku kurang rajin menulisdan bercerita. Bahkan aku, anak bungsunya pun tak terlalu paham sejarah hidupnya. Jika saja ayah mau meluangkan sedikit waktunya, aku yakin tahun depan tulisan mengenai pengalaman hidupnya sudah bisa kalian baca.

Ayah yang kukenal selama lebih dari seperempat abad hidupku adalah sosok yang tegar. Aku takkan menyalahkan orang yang menilai tubuh gemuk, kulit sawo matang dan kaca mata setebal minus 8 yang selalu bertengger di hidungnya yang pesek dan lebar sebagai sosok yang menyeramkan dan kurang ramah. Apalagi jika kalian mendengar suaranya yang menggelegar. Namun ia memiliki kebaikan hati dan kelapangan dada yang luar biasa. Aku bukan sedang membela pahlawan yang selalu berjuang untuk ketiga anak dan isterinya ini. Begitulah adanya ia, sederhana dan bijaksana, meskipun terkadang tak mau mendengarkan ‘nasihat’ dari anak-anaknya sendiri. Mungkin karena ia merasa asam garam yang dimakannya jauh lebih banyak daripada kami yang masih menadahkan tangan padanya setiap awal bulan, meskipun telah lulus kuliah.

Semangat, minat baca dan belajarnya mewarisi tubuhku. Meski tak jarang aku malu juga dibuatnya. Di usianya yang sudah senja ini, semangatnya masih membara jika ingin mempelajari sesuatu. Jauh melebihi aku, anak bungsunya yang usianya masih sangat muda. Ia tidak pernah malu untuk bertanya, meski tak jarang kami tertawakan. Karena ingatannya yang sudah mulai menurun, seringkali ia mengulang-ulang pertanyaan yang sudah berkali-kali kami jelaskan, terutama jika berkaitan dengan tekhnologi. Maafkan kami anak-anakmu ayah, kami tak pernah bermaksud merendahkanmu. Begitu juga dengan keras kepala dan keberaniannya mengalir deras di darahku. Bahkan kata sebagian orang, fisikku juga tak jauh berbeda dengannya. Wajah bulat telur, jidat lebar dan rahang kerasnya menghiasi wajahku. Like father like daughter. Aku tak kaget saat melihat skor need achievementku yang tinggi ketika mengerjakan laporan EPPS (Edward Personal Preference Schedule) sebagai tugas mata kuliah inventori, karena ini juga warisan yang kudapatkan dari ayah.

Ayah adalah seorang penyayang, setidaknya itulah gambaranku, anak bungsunya. Ia merelakan laptop seventh (bukan sekadar second, karna aku tak yakin ayah adalah tangan kedua pemilik laptop itu) Toshiba miliknya menyeberangi pulau karena komputer anak bungsunya rusak. Ia mengabaikan kepentingannya di atas kepentinganku. Ia sangat khawatir aku tak dapat mengerjakan tugas kuliah yang seabreg-abreg. Bahkan ia sendiri yang mengantarkan laptop tua itu untukku. Ya, saat itu ayah memang akan melakukan perjalanan dinas ke Jakarta, ratusan kilometer dari Jogjakarta, tempat aku menuntut ilmu. Meskipun belakangan aku tahu ayah membeli laptop baru, tapi aku tetap berbesar hati dengan keikhlasannya.

Ayah juga sangat mempengaruhi kehidupan sosialku. Belakangan aku banyak bergaul dengan relasi ayah. Sebut saja om Hidayat, sahabat ayah sejak tiga puluh tahun lampau. Meskipun banyak orang yang segan dengan pak haji yang satu ini, aku cukup dekat dengan beliau. Bahkan aku punya panggilan khusus untuknya, ‘om my dreams’, begitulah aku menyebutnya. Ada lagi om Heru Maryanto, pensiunan dini PT Telkom, yang sudah menganggapku seperti keponakannya sendiri. Meskipun jarang bertemu dengannya, ia punya andil yang cukup besar bagi kehidupanku.

Jangan kau kira hubunganku dengan ayah berjalan mulus seperti jalan tol yang bebas hambatan. Waktuku mungkin lebih banyak kuhabiskan dengan adu mulut, adu argumentasi, bertengkar dan ngambek hingga tak berbicara sepatah katapun dengannya. Karakter kepribadian kami yang keras membuat hal ini sering terjadi, terutama saat aku tinggal satu rumah dengannya.



Aku tak begitu dekat dengan ayah saat aku masih balita. Tak ada potongan memori saat aku berada digendongan ayah. Entah karena kemampuan mengingatku kurang baik, atau karena ayah memang lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor, aku tak tahu. Pengalaman paling dramatis yang ada di ingatan Aini kecil adalah saat ayah melindungi ketiga anaknya dari preman mabuk di terminal bis Kabanjahe. Saat itu kami berempat dalam perjalanan Tigabinanga – Medan. Malam itu bunda harus menemani kakek di ujung usianya. Sementara kami harus pulang ke Medan. Aku dan kedua saudaraku harus sekolah esok pagi. Sementara ayah harus ngantor. Disitulah kami terjebak dengan tetesan hujan. Aku berusaha keras menahan airmataku agar tak membanjiri pipi. Aku tak ingin melihat ayah bertambah panik.

Pengalaman paling pahit yang ingin aku lupakan dari masa kecilku adalah saat ayah marah besar melihat kakak dan abangku bertengkar di ruang tengah. Ayah yang saat itu sedang beristirahat karena sangat letih dengan tumpukan pekerjaan di kantornya menjadi berang. Ia menghentikan perkelahian kecil kakak dan abangku yang saat itu masih duduk di Sekolah Dasar dengan kesalahan besar. Ia menyuruh mereka mengambil parang dari dapur (atau bahkan memberikannya langsung, aku tak ingat). Kakak dan abangku memang berhenti berkelahi saat itu. Tapi ayah lupa, ingatan itu terus membekas di otak kami, hingga saat ini. Aku berbaik sangka, ayah pasti belum belajar psikologi perkembangan anak saat itu. Karena kalau ia tahu akibat dari perbuatannya, ayah tentu akan terbang ke masa lalu untuk merubah itu semua.

Lebih dari lima tahun aku tinggal terpisah dengan pria yang lahir di pertengahan Agustus, enam puluh tahun silam. Keinginanku untuk melanjutkan kuliah di universitas tempat ayah memperoleh gelar sarjananya, membuatku banyak belajar. Begitu juga dengan dirinya. Kata orang, ayah banyak berubah. Kalau jenggot dan rambutnya yang kian memutih, aku tak heran. Namun informasi yang kudapatkan, kini ia menjadi lebih perhatian dan banyak bicara dengan orang lain, terutama keluarga besar. Dulu ayah lebih suka menghabiskan waktunya di rumah dengan membaca buku–buku tebal miliknya atau menonton televisi, jika acara itu menarik perhatiannya. Berita, itulah yang tak pernah luput dari pandangannya. Aku (dan dua saudaraku, juga bunda) sampai bosan dengan hobinya yang satu ini. Sesekali, demi acara favoritku (dan teman-teman), aku berantem berebutan remote control dengannya. Maafkan aku ayah.. Tapi aku bosan dengan berita yang selalu memberikan negative feeling. Aku juga tak mau jadi bahan tertawaan teman-teman se-gank karena ga nyambung saat diajak ngobrol. Seusiaku saat itu, remaja lebih memilih peer groupnya daripada orang tua.




Masih segar di ingatanku saat ayah memberikan dukungan padaku agar aku mau menyelesaikan membaca puisi pada peringatan Isra’ Mi’raj di SD 064023 belasan tahun silam. Karena aku tiba-tiba menghentikan membaca puisi karena aku malu ada ayah yang menontonku. Ayah juga yang mengajak aku dan temanku untuk tampil membaca puisi di kantornya. Meskipun aku dan temanku akhirnya tidak jadi tampil karena kesalahan seksi acara, tapi aku tidak kecewa karena aku tahu ayah bangga padaku. Hey man, ada berapa siswa SD yang (akan) tampil di kantor sebesar Balai Pelatihan Kesehatan Medan? Tidak banyak, bahkan mungkin cuma aku (dan temanku itu tentu saja). Bahkan ayah pernah memujiku di depan puluhan guru yang menjadi peserta Workshop Quantum Learning di Indrapura, saat ayah diundang menjadi pembicara dan aku sebagai asistennya. Tentu saja saat itu aku sudah tidak berseragam merah putih lagi. Aku sudah mengikuti jejak ayah berkuliah di kampus biru.

Ayah juga memberiku uang saku yang lebih banyak dibanding kakak dan abangku. Ini bukan pilih kasih, tapi karena aku bekerja untuknya. Tak usah mengerutkan kening teman, aku memang membantu pekerjaan-pekerjaan ayahku. Tidak terlalu memberatkan karena tugasku hanyalah mengetik. Tak jauh berbeda dengan tugas-tugas kuliah yang biasanya aku kerjakan. Waktuku justru lebih banyak terbuang ketika mengumpulkan energi dan konsentrasi saat membaca tulisan tangannya yang tak ubahnya cakar ayam. Ayahku adalah seorang apoteker yang harus bisa menulis cepat layaknya seorang dokter. Pekerjaan dari ayah yang membuat dompet dan rekeningku berlipat ganda adalah menyusun angka kredit. Kalau kau dibesarkan di lingkungan Pegawai Negeri Sipil, kau pasti paham apa yang aku bicarakan. Sebenarnya pekerjaanku hanya mengumpulkan surat mengajar, menghitung jam mengajar, mengetik surat perintah dan teman-temannya. Yah, copy paste ditambah sedikit polesan editing. Kalau kau orang yang teliti, sabar dan mau sedikit kerja keras serta mampu bekerja dibawah tekanan, pasti dengan senang hati akan kau sambar pekerjaanku ini.

Kecintaanku pada dunia pendidikan juga karna ayah. Aku tak tahu apakah ayah sengaja mengarahkanku tuk mengikuti jejaknya atau pribahasa yang mengatakan ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’ itu memang berlaku. Tapi sedari awal perkuliahan aku memang banyak berkonsultasi dengannya, termasuk dalam pengambilan mata kuliah pilihan. Ayah yang memiliki ijazah Sarjana Farmasi justru menjadi widyaiswara yang sering mengajarkan dinamika kelompok dan pengembangan kepribadian di setiap diklat. Ini takdir Tuhan atau ayah memang salah jurusan, aku tak tahu. Ayah sering berbagi cerita tentang pahala mengajar yang insya Allah tidak akan berhenti mengalir, walaupun kita sudah meninggal.

Kini, disaat kelulusanku tinggal menghitung hari, aku dilema. Haruskah aku kembali ke kampung halamanku, memenuhi impian ayah, atau menguji mental di ibukota yang kabarnya lebih kejam dari ibu tiri, mengejar impianku? Tuhan, bantu aku menjawab pertanyaan ini. Aku ingin membahagiakan ayahanda dan ibunda tercinta, tetapi itu tidak harus selalu berada di sisi mereka kan? Tuhan, sungguh aku tak ingin salah dalam memutuskan. Aku menyadari seutuhnya bahwa hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Rabb, beri aku pertanda, pilihan mana yang terbaik menurutMu?

Ayah, aku ingin membantumu mengembangkan Sekolah Alam Medan Raya. Tetapi dengan ilmu yang kumiliki saat ini, sedikit sekali yang bisa aku lakukan. Aku khawatir ternoda dengan budaya kerja masyarakat Medan. Ayah, usiaku masih belia. Aku tak mampu memberikan pengaruh besar di kota tempat aku dibesarkan. Izinkan aku untuk berguru pada yang lebih tinggi. Ikhlaskan aku belajar di ESQ Leadership Center Jakarta. Aku tetap akan membantu perjuangan sekolah percontohan itu. Aku akan mengirimkan berita tentang sekolah unggul di tiap kota yang aku kunjungi di setiap training kids. Aku akan mencari buku-buku untuk anak-anak kaum dhuafa itu hingga berkeliling Indonesia, bahkan dunia. Ayah, aku akan selalu berjuang bersamamu, semampuku, segenap jiwa ragaku. Bersama alam semesta, bersama malaikat dan seluruh makhluk ciptaanNya, bersama proton dan neutron yang tak pernah berhenti bertasbih mengelilingi orbitnya. Ayah, percayalah aku akan pulang, tapi tidak sekarang. Aku akan marsipature hutanabe, nanti saat ilmu yang kumiliki dan kepribadianku telah matang. Ayah, bersabarlah.. Sungguh aku pun sangat merindukanmu seperti kerinduan yang kau simpan untukku.




Saturday, June 15, 2019

Dekap Aku Dalam Doamu, Yah..

Foto di Pantai Barus, satu dasawarsa yang lalu


Merindukan nasihat Tenzing Norgay-ku, lelaki paling hebat yg dalam kamus hidupku. Ayah yg paling sabar menghadapi kenakalanku dan memilih mendoakan dibanding memarahiku. Pria yg dulu paling sulit kupahami kini menjadi paling lekat di hati. 

Sejak ayah sakit di awal Januari 2010 yang lalu, aku berusaha mendampinginya berdakwah keluar kota semampuku. Meski sulit bagiku menandingi stamina ayah yg agustus nanti memasuki usia 72 tahun.
Sehat-sehat ya pak, aku masih membutuhkanmu untuk mendekatkanku padaNya. Terima kasih utk semua doa yg Kau panjatkan di tempat mustajab, Semoga Allah segera mengabulkan. 

Maafkan anak-anak ayah yg belum bisa membalas kebaikan dan jasa baikmu. Aku bangga memiliki ayah sepertimu. Semoga semangat dan kepedulianmu mengalir dalam darahku. Meski kau tak pernah mengatakan mencintaiku, bahasa tubuhmu menunjukkan lebih dari yg kubutuhkan.

Ayah, aku rindu dekapanmu. Aliran doamu telah membuka pintu rezeki dan relasi dalam momentum hidupku. Tak sabar rasanya menanti kepulanganmu, mendengar cerita perjalanan spiritual dan menuliskannya bersama sehingga buku biografi ayah akan segera terbit. 

Terima kasih telah menjadi matahari jiwaku dan slalu ada disampingku. Ayah, bersabarlah. Allah akan menunjukkan the power of praying seperti keberangkatan ayah ke Tanah suci. Semua nya serba tiba-tiba dan mengejutkan. 

Ananda hanya bisa berdoa, sisa umur ayah berkah dan bermanfaat bagi banyak orang. Sehingga ketika Dia memanggilmu, "ya ayyatuhannasul muthmainnah.. Irji'i ila Robbi kirodiayatammardhiah.. Wadkhuli fi ibadi.. Wadkhuli jannati.. Dan aku bisa mengiringi kepergianmu dengan senyuman.. :)